Hubungan Filsafat dan Pendidikan Islam

Karya silvi khumairo, wahid, yahya
BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Mengkaji tentang pendidikan yang dikaitkan dengan filsafat tidak lepas dari adanya pemikiran tentang filsafat pendidikan dari para filosof Yunani, seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles serta pemikiran filsafat modern dari Barat.
Kajian konsep pemikiran filsafat pendidikan yang bercorak Islam dirumuskan oleh para filosof Muslim yang menjadikan dasar utama filsafat pada nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai landasan utama.
Secara praktis filsafat erat kaitannya dengan bidang pendidikan Islam, yakni berhubungan dengan masalah pendidikan yang bersifat filosofi. Salah satu contohnya adalah masalah kurikulum, dengan bahasan apa yang akan diberikan kepada peserta didik, tujuan pendidikan, dan berbagai aspek pendidikan Islam lainnya.
Dapat dikatakan bahwa filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya bertujuan untuk menjadikan insan kamil atau manusia ideal, memiliki akhlak baik atau berbudi luhur.
Dengan demikian, lebih lengkap pembahasn mengenai hubungan filsafat dengan pendidikan Islam akan penyusun bahas pada makalah ini.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pemaknaan filsafat ?
Apa yang dimaksud dengan pendidikan Islam ?
Bagaimana peran filsafat bagi pendidikan Islam ?

TUJUAN
Mengetahui dan memahami makna filsafat.
Mengetahui dan memahami tentang pendidikan Islam.
Mengetahui dan memahami peran filsafat bagi pendidikan Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

MAKNA FILSAFAT
Pengertian Filsafat
Kata Filsafat padanan dari bahasa Arab Falsifah dan bahasa Inggrisnya Philosophy. Kata filsafat sendiri berasal dari bahasa Yunani Philosophia, yakni gabungan dari kata “philos” yang artinya cinta, dan “sophos” berarti kebijaksanaan, kearifan atau pengetahuan (wisdom). Secara etimologi filsafah berarti cinta kepada kebijaksanaan, kearifan atau pengetahuan (love of wisdom).
Bijaksana (sophos) di sini mengandung arti sebagai berikut:
Mempunyai insight, pengertian yang mendalam meliputi seluruh kehidupan manusia dalam segala aspeknya dan seluruh dunia dengan segala lapangannya serta hubungan antara kesemuanya itu.
Sikap hidup yang benar, yang baik dan tepat, berdasarkan insight, yang mendorong akan hidup yang sesuai dengan nilai hidup dan nilai manusia yang dicapai.
Oemar Muhammad mengartikan filsafat adalah cinta akan hikmah, dalam sebuah hadits disebutkan sebagi berikut: “Hikmah itu adalah benda yang hilang bagi orang mukmin, ia memungutnya dimana ia berjumpa”. Kata hikmah juga tertera dalam Al-Qur’an pada surat Al-Baqarah ayat 269 yang artinya sebagi berikut:
يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
Artinya: “Barangsiapa diberi hikmah maka ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (Q.S. Al-Baqarah: 269)
Makna hikmah menurut Al-Arabi dalam kitabnya Fushuh Al-Hikam yang dikutip oleh Dedi Supriyadi adalah:
الْعِلْمُ بِحَقَاَ ئِقِ الْأَشْيَاءِ وَالْعَمَلِ بِمُقْتَضَاهَا
(Proses pencarian hakikat sesuatu dan perbuatan)
Ar-Raghib juga mengatakan bahwa hikmah adalah
الْحِكْمَةُ : اَصَابَةُ الْحَقِّ بِالْعِلْمِ وَالْعَقْلِ
(Hikmah ialah memperoleh kebenaran dengan perantara ilmu dan akal), dan juga Nur Cholis Madjid berpendapat bahwa hikmah merupakan ilmu pengetahuan, filsafat, kebenaran, bahkan merupakan rahasia Tuhan yang tersembunyi dan hanya bisa diambil manfaat dan pelajaran pada masa dan waktu yang lain.
Filsafat diposisikan sebagai Mater Scientiarum atau induk dari segala ilmu pengetahuan. Itu berarti bahwa Filsafat adalah ilmu yang istemewa dan memiliki kedudukan tertinggi dibanding disiplin ilmu pengetahuan lain. Filsafat senantiasa mencoba untuk menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa.
Dengan demikian filsafat dapat dikemukakan sebagai suatu ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ke-Tuhan-an, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia dan bagimana sikap manusia yang seharusnya setelah mencapai ilmu pengetahuan.
Pada dasarnya inti dari filsafat atau falsafah adalah berpikir. Setiap manusia tentulah beripikir, namun tidak semuanya bisa disebut sebagai filosofis atau filsuf. Hal ini dikarenakan karakteristik berpikir falsafi berbeda dengan berpikir pada umumnya. Falsafah membutuhkan pemikiran secara rasional (logis), tuntas sampai ke akarnya (radikal), mengikuti prosedur berpikir tertentu (sistematis), dan bersifat subyektif atau relatif.
Di lihat dari asal katanya, istilah falsafah muncul pada masa Yunani Kuno (mulai sekitar abad ke-5 SM) yang merupakan sebagai perintis perkembangan pemikiran filosofis. Sebelum abad ke-5 SM masih terdapat kepercayaan terhadap mitos dan pemikiran yang bercorak alam, seperti air, api, udara, dan tanah sebagai unsur kehidupan. Setelah itu, pemikiran bergeser dari alam ke logos (ilmu) dan filosofis. Adapun tokoh yang dikenal sebagai perintis perkembangan falsafah pada masa Yunani Kuno adalah Socrates, Plato, Aristoteles dengan aliran utama idealisme dan realisme.
Sejarah kemunculan aliran idealisme pertama kali dirintis oleh Socrates kemudian dikembangakan oleh muridnya yang bernama Plato. Idea berarti pemikiran, atau gagasan dalam pikiran. Idealisme mempunyai pendirian bahwa kenyataan itu terdiri dari suatu gagasan, idea, atau spirit. Dalam pandangan idealisme, alam nyata ini adalah tergantung pada jiwa universal atau Tuhan, atau berarti pula bahwa alam adalah ekspresi dari jiwa tersebut. 
Idea menurut Plato bersifat obyektif-universal. Seorang idealis berpendapat bahwa objek pengalaman bukanlah benda material, melainkan sebuah persepsi. Benda-benda seperti bangunan atau pepohonan itu ada karena dalam akal yang mempersepsikannya atau hanya penampakan saja dari alam konsep, idea, universal atau esensi yang abadi.
Plato berpendapat bahwa realitas yang hakiki itu tetap dan tidak berubah, dunia ideal bersumber dari ide mutlak yakni Tuhan. Kebenaran pengetahuan dan nilai sudah ada sebelum manusia lahir dan bersumber dari ide yang mutlak tersebut.
Sedangkan berbeda dengan gurunya (Plato), Aristoteles berusaha memadukan antara idea dan realita. Aristoteles memahaminya lebih konkret. Bagi Aristoteles aktual lebih utama dibandingkan potensial. Aktual dihasilkan dari potensi, kemudian potensi diturunkan ke tindakan (act), seperti manusia diproduksi oleh manusia. Sehingga secara temporer aktual mendahului potensial, sebab aktual merupakan akhir atau ujung atau tujuan adanya potensi itu diperlukan.
Menurut Aristoteles, manusia merupakan makhluk materi dan rohani. Sebagai makhluk materi, manusia berada dalam kondisi alam materi dan sosial. Sebagai makhluk rohani, manusia sadar akan menuju proses yang lebih tinggi kepada manusia yang ideal atau manusia yang sempurna.
Secara sederhana, bagi Aristoteles idea ada dalam benda-benda. Pola pemikiran Aristoteles berpendapat bahwa realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera mata kita. Sedangkan menurut Plato realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita.
Ada juga pendapat yang berasal dari filosof Muslim, salah satunya adalah Al-Farabi yang lahir pada tahun 257 H/ 870 M. Oleh para ahli sejarah filsafat Al-Farabi dijuluki dengan sebutan Al-Mu’allimuts –Tsani (guru kedua), dengan arti kata dialah filosof kedua besarnya sesudah Aristoteles.
Pengertian filsafat menurut Al-Farabi, ia mengatakan bahwa filsafat ialah mengetahui semua yang wujud karena ia wujud  (al-ilm bil majudad bimahiya maujudah), atau (ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada).
Filsafat Al-Farabi lebih condong kepada filsafat Plato daripada Aristoteles yang mengatakan bahwa alam ini adalah baru (hadis) dan terjadi dari tidak ada serta tidak abadi.
Al-Farabi mengemukakan pendapatnya tentang metafisika mengenai ketuhanan dengan dalilnya, yaitu wajib al-wujud dan mumkin al-wujud. Wajib al-wujud adalah wujud yang sempurna dan  dengan sendirinya, esensi wujudnya adalah sama dan satu, sedangkan mumkin al-wujud adalah sesuatu yang wujud antara ada dan tidaknya yang keberadaannya dikuatkan oleh wajib al-wujud.
Sejalan dengan Al-Farabi, Ibnu Sina juga mengatakan bahwa eksistensi segala bentuk atau materi bergantung kepada Tuhan (atau akal aktif) yang esensi-Nya Esa/Tunggal dan Maujud.
Menurut Ibnu sina akal adalah sumber dari segala kejadian, dan akal wajib dikembangkan. Lebih lanjut, tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina adalah untuk mengembangkan seluruh potensi manusia baik jasmaniah maupun rohaniahnya agar menjadi insan kamil yang berakhlak mulia atau berbudi luhur.
Objek Kajian Filsafat
Dalam filsafat ada 3 kajian utama yang dibahas, yakni ontologi/metafisiska, epistemologi, dan aksiologi.
Ontologi/Metafisika
Metafisika berasal dari bahasa Yunani “meta” artinya setelah atau dibalik, “phusika” artinya hal-hal di alam. Metafisika adalah cabang filsafat yang mempelajari hakekat objek (fisik) dan penjelasan asal di dunia atau studi keberadaan atau realitas. Ontologi ini membahasa apa yang ingin kita ketahui, atau suatu pengkajian mengenai yang “ada”.
Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “Metapysica” mengemukakan gagasan tentang metafisiska merupakan sebagai kebijaksanaan (Sophia) ilmu pengetahuan yang mencari prinsip-prinsip fundamental, sebagai ilmu yang mempelajari yang ada sebagai yang ada, dan merupakan ilmu tertinggi dengan objek kajian paling luhur, sempurna dan menjadi landasan bagi seluruh yang ada.
Cabang utama metafisika adalah ontologi. Ontologi berasal dari kata yang berwujud, teori ilmu tentang wujud, tentang hekekat yang ada, serta didasarkan pada logika semata.
Ontologi sering diidentikkan dengan metafisika, yang disebut juga sebagai proto-filsafat atau filsafat yang pertama, atau filsafat ketuhanan yang bahasannya adalah hakekat sesuatu, keesaan, persekutuan, sebab dan akibat, realita, prima Tuhan dengan segala sifat-Nya, malaikat, relasi atau segala sesuatu yang ada di bumi dengan tenag-tenaga di langit, wahyu, akhirat, dosa, neraka, pahala, dan surga. Jadi ontologi merupakan teori tentang kebenaran sebagai keberadaan.
Epistemologi
Epistemologi menurut Nina W. Syam merupakan cabang filsafat yang mempelajari benar atau tidaknya suatu ilmu pengetahuan. Ada juga yang mengatakan yang memepelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani “episteme” artinya pengetahuan dan “logos” yang berarti pikiran, percakapan atau ilmu.
Dalam Encyclopedia of Philosophy, epistemologi didefiniskan sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dasar dari ruang lingkup pengetahuan praanggapan dan dasra-dasarnya serta realitas umum dari tuntutan pengetahuan sebenarnya.
Sedangkan menurut Aristoteles merupakan filosof Yunani kuno mengatakan bahwa episteme adalah suatu kumpulan teratur dari pengetahuan rasional dengan objeknya sendiri yang tepat.
Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum, membicarakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Aksiologi berasal dari kata axio yang berarti nilai atau sesuatu yang berharga dan logos artinya akal, terori. Sehingga aksiologi adalah teori nilai, penyelidikan, mengenai kodrat, kriteria dan status metafisik dari nilai.
Menurut Profesor Jalaluddin mengatakan bahwa aksiologi  menyangkut nilai-nilai yang berupa pertanyaan apakah yang baik dan bagus itu. Definisi lain aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia.

MAKNA FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Filsafat Pendidikan
Filsafat merupakan kegiatan akal murni manusia dalam usaha untuk mengetahui hakikat sesuatu dengan berpikir secara kritis, logis, radikal, universal, dan sistematis dengan menggunakan seluruh daya kemampuan akal manusia.
Jika ditarik dalam ranah pendidikan, maka banyak hal yang bersifat filosofi dalam bidang pendidikan, yakni ketika seseorang telah memasuki pada esensi atau hakikat pendidikan maka secara otomatis manusia telah memasuki pada bidang filsafat. Di dalam dunia pendidikan akan dibahas dan ditetapkan ke arah mana tujuan pendidikan, apa materinya, bagaimana cara dan alat untuk  menyampaikannya, serta evaluasinya, dan sebagainya.
Nurani Soyomukti mengutup dari R.S. Peters dalam bukunya The Philosophy of Education mengatakan bahwa pada hakikatnya pendidikan tidak mengenal batas atau akhir karena kualitas kehidupan manusia terus meningkat, istilahnya disebut (Long-life Education).
Menurut Haidar Putra Daulay mengemukakan filsafat pendidikan sebagai berikut:
Penerapan metode dan pandangan filsafat dalam bidang pendidikan.
Suatu aktivitas berpikir murni atau berpikir reflektif (reflectif thingking) manusia dalam bidang pendidikan.
Pembahasan permasalahan pendidikan yang bersifat filosofi atau menjawab masalah pendidikan yang bersifat filosofi.
Aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan.
Dilihat dari kajian pembahasan utama dalam filsafat dalam bidang ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang diinterpretasikan pada dunia pendidikan adalah sebagai berikut:
Ontologi/Metafisika dalam konteks pendidikan.
Dalam bidang pendidikan aspek realita dapat dijangkau melalui pengalaman pancaindra, yakni dunia pengalaman manusia secara empiris. Manusia seutuhnya dengan segala aspeknya merupakan objek materil pendidikan. Sedangkan objek formal filsafat pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan.
Sehingga dalam prakteknya, ontologi/metafisika memberikan kontribusi bagaimana pendidikan itu memiliki tujuan. Tujuan apa yang dirumuskan sesuai dengan kualitas manusia dan apa yang akan dihasilkannya. 
Tujuan pendidikan Islam yang bersifat intrinsik merupakan hakikat atau substansi logis tentang mencapai kehidupan yang baik (good life), kehidupan yang baik dimanifestasikan dengan “manusia ideal” yang mampu menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.
Dalam pendidikan Islamnya, tujuan yang ingin dicapai menurut Haidar Putra Daulay yang mengutip dari Muhammad Atiyyah al-Abrasyi adalah untuk pembentukan akhlak mulia, sebagai persiapan kehidupan dunia dan akhirat, persiapan mencari rezeki dan pemanfaatannya, menumbuhkan roh ilmiah (scientific spirit) pada pelajar serta menyiapkannya dari segi profesional dan teknis.
Epistemologi dalam konteks pendidikan.
 Epistemologis diperlukan oleh pendidikan dalam mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggungjawab. Epistemologi memberikan kontribusi terhadap arah keilmuan yang dirumuskan dalam kurikulum pendidikan sehingga dapat tercapainya kearifan (kebijaksanaan atau wisdom) tentang fenomen pendidikan.
Adapun aspek-aspek keilmuan yang terdapat dalam kurikulum diantaranya adalah aspek ketuhanan dan akhlak, akal dan ilmu pengetahuan, jasmani, kemasyarakatan, kejiwaan, keindahan, dan keterampilan.
Aksiologi dalam konteks pendidikan.
Nilai dalam pendidikan tidak hanya berlaku pada nilai yang bersifat intrinsik melainkan juga sebagai instrumental serta menelaah dasar-dasar dalam bertindak/praktek melalui kontrol terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh positif dalam dunia pendidikan.
Tujuan pendidikan objectives yang bersifat lebih konkret dan merupakan pengembangan dari tujuan pendidikan ideals, yakni untuk mencapai tujuan pendidikan dengan kegiatan-kegiatan bersifat praktis, seperti penerapan kurikulum, kegiatan belajar-mengajar, strategi, metode, dan sebagainya.
Aksiologi berkontribusi dalam dunia pendidikan melalui dirumuskannya nilai-nilai yang akan diterapkan dalam bidang pendidikan. Hal ini erat kaitannya dengan pengembangan ilmu pendidikan dengan melibatkan ilmu lain seperti ilmu perilaku sebagai ilmu-ilmu sosial. Pendidikan juga memerlukan teknologi, tetapi pendidikan bukanlah bagian dari iptek.
Tokoh filosof Yunani Kuno juga mengemukakan uraian tentang aliran idealisme dan realisme jika dikaitkan dengan pendidikan. Aristoteles sebagimana halnya Plato mengatakan bahwa pendidikan menjadi upaya negara. Plato berpendapat bahwa pendidikan diawali pada tubuh, karena tubuh dan hasrat (biologis) berkembang lebih dulu daripada jiwa dan dayanya, namun demikiann halnya tubuh dilatih demi tujuan jiwa (rohani) dan hasratnya untuk tujuan akal pikiran. Sehingga pendidikan merupakan bakal utama bagi pendidikan moral.
Aristoteles juga berpandangan bahwa pendidikan moral perlu diperhatikan pada anak sebelum lahir (prenatal care) dan perlunya permainan bagi anak. Serta perlunya mengawali pendidikan dari segi fisik, dengan latihan-latihan jasmaniah dan lain-lain agar tercapainya kejiwaan (rohani) dan akal pikiran.
Dalam dunia politik, Aristoteles juga berpendapat bahwa dalam suatu negara akan tercapai kemakmuran dan stabilitas yang baik bilamana individu dan masyarakatnya memiliki kebaikan moral dan integritas keilmuan yang memadai.
Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan Islam berasal dari  kata “pendidikan” dan “Islam”. Pertama adalah kata “pendidikan”, yaitu bimbingan atau  pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Kedua adalah Islam. Menurut Abdul Mujib, Islam merupakan agama samawi yang terakhir diturunkan oleh Allah Swt kepada manusia melalui Muhammd Saw sebagai utusan-Nya, untuk dijadikan pedoman dan petunjuk dalam kehidupannya.
Kata “Islam” adalah suatu konsep ajaran yang diyakini memiliki nilai-nilai tentang kebenaran oleh para pengikutnya/ penganutnya (muslimin). Islam adalah sebuah agama/ ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW sebagai wadah atau sarana yang terdapat di dalamnya aturan-aturan/ketentuan-ketentuan untuk manusia menjalankan dan menjauhi larangan-Nya berdasarkan syari’at. Pedoman atau landasan yang digunakan dalam menjalankan Islam adalah Al-Qur’an dan Hadis.
Agama Islam merupakan agama akhir dan mutaakhir yang selalu mendorong manusia untuk menggunakan akal agar dapat memehami ayat kauniyah (Sunnatullah) yang terbentang di alam semesta dan memahmi ayat-ayat Al-Qur’an yang menurut penelitian Dr. Maurice Bucaille (1976) mengandung pernyataan ilmiah yang sangat  modern.  Agama Islam merupakan agama yang seimbang antara dunia dan akhirat, antara iman dan ilmu, sehingga dalam hadits dijelaskan bahwa umat Islam dituntut untuk mencari ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.
Menurut Daulay yang mengutip dari Oemar Muhammad al-Toumy al-Syaibani pendidikan Islam adalah usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya melalui proses pendidikan. Sedangkan menurut Muhammad Fadhil Jamali berependapat bahwa pendidikan Islam merupakan proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan mengangkat derajatnya, sesuai kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarannya (pengaruh luar).
Sehingga, secara umum jika mengacu pada suatu sistem yang dimaksud, Pendidikan Islam adalah suatu proses edukatif yang mengarah kepada pendidikan akhlak (moral) atau kepribadian atau usaha untuk mengembangakan seluruh potensi yang ada pada manusia baik lahir maupun batin agar terbentuknya pribadi Muslim seutuhnya.
Adapun potensi lahir manusia merupakan segala bentuk fisik/wujud atau realita manusia yang dapat dilihat oleh panca indera, seperti tempat tinggal, pakaian, kesehatan tubuh, dan sebagainya. Sedangkan potensi rohaniah manusia meliputi akal, kalbu, nafs, dan roh.
Seirama dengan kalam Allah dalam surat al-Hijr ayat 29 bahwa manusia terdiri dari jiwa dan raga, berwujud fisik dan ruh (ciptaan) Allah, manusia secara fitrah juga memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin dikembangkan) beriman kepada Allah (Q.S. Al-A’raf: 172).
Akal diarahkan untuk diisi dengan kecerdasan dan segala ilmu pengetahuan serta keterampilan semaksimal mungkin. Sehingga manusia yang pada fitrahnya tidak mengetahui apa-apa menjadi mengetahui:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون
Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (Q.S An-Nahl: 78)
Akal merupakan daya pikir yang terdapat dalam jiwa manusia yang dengannya segala sesuatu dapat diserap, akal juga sebagai penahan hawa nafsu untuk mengetahui amanat dan beban kejiwaannya.
Kalbu dibimbing untuk membentuk kecerdasan emosional yang tinggi, sehingga dapat membentuk watak atau kepribadian, sifat-sifat, karakter  yang berakhlak terpuji (mahmudah) dan menjauhi akhlak tercela (madzmumah).
Nafs, dididik agar manusia dapat mengedalikan hawa nafsu yang negatif yang dapat merusak kehidupan manusia. Sedangkan roh manusia juga perlu dibina untuk mengendalikan atau mengembalikan ke jalan yang lurus sesuai dengan asal roh manusia yang suci ketika pertama kali ditiupkan ke jasad manusia.
Adapun aspek-aspek yang terdapat dalam pendidikan Islam antara lain aspek pendidikan ketuhanan dan akhlak, akal dan ilmu pengetahuan, pendidikan fisik, kejiwaan, keindahan (seni), keterampilan dan aspek sosial.
Adapun tujuan pendidikan Islam yang terdapat dalam surat Luqman ayat 12-19 pada dasarnya adalah untuk mencetak manusia yang beriman, mencetak manusia yang bertakwa, dan mencetak manusia yang berakhlakul karimah/ berbudi pekerti luhur.
Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat pendidikan Islam dirumuskan sebagai upaya pembahasan pendidikan Islam secara filosofis, baik dari sudut pandang penerapan metode filsafat atau metode analitik ke dalam pendidikan Islam.
Jati diri edukatif dalam persepektif Islami ditemukan melalui interpretasi hukum yang paling mendasar, yakni Al-Qur’an dan Hadits. Kedua hukum tersebut sebagi hukum yang khas dan autentik dalam pemikiran pendidikan.
Diibaratkan air, Al-Qur’an dan Hadits merupakan yang paling jernih dan suci dalam membentuk ciri khas falsafah pendidikan Islam (falsafah al-hadhariyah). Falsafah ini bertumpu pada prinsip keterpaduan antara teosentris (katuhanan) dengan antroposentris (kamanusiaan). Falsafah al-hadhariyah mengakui adanya alam nyata dan alam gaib, fisik dan metafisik, memandang penting wahyu dan nilai moral dalam pendidikan.
Salah satu cara untuk memperoleh ilmu melalui jalur wahyu adalah dengan membaca dan menelaah Al-Qur’an secara teliti sehingga dapat diperolehnya isyarat-isyarat ilmu. Syahrin Harahap menarik komentar ‘Abdullah Darraz sebagai berikut:
“Apabila Anda membaca Al-Qur’an, maknanya akan jelas di hadapan Anda. Tetapi jika Anda membacanya sekali lagi, maka Anda akan menemukan pula makna-makna lain yang berbeda dengan makna-makna terdahulu, demikian seterusnya samapai-sampai (Anda) menemukan kalimat atau kata-kata yang mempunyai arti bermacam-macam, semuanya benar atau mungkin benar…Ayat-ayat Al-Qur’an bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang memancar dari sudut-sudut lain…tidak mestahil jika Anda mempersilahkan orang lain memandangnya, maka dia akan melihat lebih banyak daripada yang Anda lihat.”
Melalui Al-Qur’an juga, manusia dapat mengetahui siapa dirinya, dari mana ia berasal, di mana ia berada (sekarang), dan ke mana ia akan pergi.
  Dengan demikian falsafah al-hadhariyah (filsafat pendidikan Islam) ini menilai bahwa perolehan ilmu tersebut demi tercapainya keridhaan Allah (science for mardhatillah, thalab al ‘ilm li mardhatillah).
 Berikut diantara perbedaan karakteristik falsafah umum dan persepektif Islam adalah sebagaimana tabel berikut:
FALSAFAH UMUM
(Barat)
FALSAFAH AL-HADHARIYAH
(Persepektif Islam)

Antroposentris (dalam konsep dan teorinya tidak menghubungkan dengan wahyu/agama )
Teo-Antroposentris (konsep dan teorinya integral antara akal manusia dan wahyu Tuhan)

Positivistik-empirik (hanya mengakui adanya dan berdasarkan pada gejala yang tampak)
Real-Transendental (mengakui adanya alam nyata dan gaib)

Sekularistik (menegasikan dimensi ketuhanan dan keakhiratan dan bahwa pendidikan didasarkan pada rasio, budaya, dan nilai-nilai sosial)
Non-Sekularistik (mengakui adanya dimensi ketuhanan dan keakhiratan, serta pentingnya peran moral dan agama dalam pendidikan)

Bersumber pada rasio dan budaya
Bersumber pada wahyu, rasio dan budaya

Etika pragmatik-hedonistik (science for science)
Etika demi keridhaan Allah (science for mardhatillah)

Pertimbangan interaksi sosial semata
Interaksi vertikal dan horizontal (hablun minallah dan hablun minannas)

Ganjaran dan hukuman hanya di dunia
Pahala dan dosa ( di dunia dan di akhirat)

Modal psikis berpikir berangkat dari rasio dan skepstis/ kurang percaya atau ragu-ragu
Modal psikis berpikir berangkat dari keyakinan (iman), kalbu (conscience), dan rasio

Dasar ilmu adalah value-free (bebas nilai), yakni ilmu bebas dari pengaruh eksternal seperti ideologis, religious, kultural, dan sosial
Dasar ilmu adalah value-bond  (tidak bebas nilai) dan humanistik, dimana ilmu tidak terlepas dari nilai-nilai kepentingan-kepentingan baik politik, ekonomi, sosial, keagamaan, lingkungan dan sebagainya.

Pendidikan Islam menurut pandangan tokoh filsuf muslim dari ulama Hanafiah yang hidup pada abad ke-7 H/ke-13 M, yakni Imam Zarnuji (Burhan Ad-Din al-Zarnuji) yang idenya kental dengan pesan-pesan moral sesuai dalam karangan bukunya yang berjudul Ta’lim al-Muta’allim yang menjelaskan adab-adab atau sikap seseorang ketika mencari ilmu (pendidikan). Tujuan dari pendidikan Islam menurut Zarnuji berorientasi pada kepentingan keagamaan dan mencari ridha Allah.
Fazlur Rahman yang juga termasuk tokoh neo-modernisme yang lahir pada tahun 1919 di daerah Hazara sebelah Barat Laut Pakistan, bermadzhab Hanafi yang bercorak rasionalis, ia berusaha melakukan modernisasi pendidikan Islam dengan metode yang disebut “Neomodernisasi Islam”, dengan slogan “kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah”, yakni menggali nilai-nilai substantif dan konstitutif al-Qur’an yang kaya akan pendidikan moral dan al-Sunnah Nabi Muhammad Saw adalah aksi dalam kehidupan manusia.
Dalam pembaharuannya Fazlur Rahman menawarkan ide “menciptakan orientasi politis Islam yang asli” dan “menciptakan iklim intelektual sebagai langkah awal pengislaman seluruh segi kehidupan”. Tujuan dari pendidikan Islam diorientasikan pada kehidupan dunia dan akhirat. Dalam pandangan Al-Qur’an tujuan pendidikan Islam adalah untuk mengembangkan potensi yang ada pada manusia serta memberdayakan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dengan baik dan bijaksana.
Sedangkan menurut tokoh filosof Barat, Yakni Paulo Freire (Freire) yang lahir pada 19 September 1921 M, di Recife, sebuah kota pelabuhan di Timur laut Brazil, yang pendapatnya mengenai pendidikan menekankan pada pendidikan  yang manusiawi (humanis) dengan adanya hubungan timbal balik yang permanen berbentuk dialog.
Freire mengatakan bahwa tujuan pendidikan yakni diharapkannya peserta didik (manusia pada umumnya) sadar akan realitas dirinya dan dunianya, karena pendidikan merupakan nilai yang vital akan proses pembebasan manusia dari ketertindasan dan juga merupakan salah satu aksi budaya pembebasan.



PERAN FILSAFAT BAGI PENDIDIKAN ISLAM
Dalam mempelajari filsafat pendidikan Islam akan memunculkan tingkat keinsyafan kita yang lebih tingggi terghadap pendidikan Islam, sehingga dapat memahami problema dan dapat pula mencarikan solusinya sekaligus akan memberikan kearifan bagi para penanggungjawab pendidikan dalam pengelolaannya. 
Filsafat pendidikan Islam berperan dalam mengembangkan filsafat Islam, dan memperkaya filsafat Islam dengan konsep-konsep dan pandangan-pandangan filosofis dalam bidang kependidikan dan ilmu pendidikan pun akan dilengkapi dengan teori-teori kependidikan yang bersifat filosofis Islami.
Filsafat pendidikan Islam erat kaitannya dengan masalah pendidikan yang bersifat filosofi. Salah satu contohnya adalah masalah kurikulum, dengan bahasan apa yang akan diberikan kepada peserta didik, tujuan pendidikan, dan berbagai aspek pendidikan Islam lainnya.
Secara praktis filsafat pendidikan Islam banyak berperan dalam memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai macam problem yang dihadapi oleh pendidikan Islam, dan memberikan pengarahan terhadap perkembangan pendidikan Islam.
Pertama tama, filsafat pendidikan Islam menunjukkan problema yang dihadapi oleh pendidkan Islam, sebagai hasil dari pemikiran yang mendalam, dan berusaha untuk memahami duduk masalahnya. Dengan analisa filsafat, maka filsafat pendidikan Islam bisa menunjukkan alternatif-alternatif pemecahan masalah tersebut. Setelah melalui proses seleksi terhadap alternatif-alternatif tersebut yang mana yang paling efektif, maka dilaksanakan alternatif tersebut dalam praktek kependidikan.
Filsafat pendidikan Islam memberikan pandangan tertentu tentang manusia (menurut Islam). Pandangan tentang hakikat manusia tersebut berkaitan dengan tujuan hidup manusia dan sekaligus juga merupakan tujuan pendidikan menurut Islam. Pendidikan Islam tersebut dalam bentuk tujuan khusus yang operasional. Dan tujuan yang operasional ini berperan untuk mengarahkan secara nyata gerak dan aktivitas pelaksaan pendidikan.
Filsafat pendidikan Islam dengan analisanya terhadap hakikat hidup dan kehidupan manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan yang harus ditumbuhkan dan diperkembangkan. Filsafat pendidikan Islam menunjukkan bahwa potensi pembawaan manusia tidak lain adalah sifat-sifat Tuhan, atau al Asma’ al Husna dan dalam mengembangkan sifat-sifat Tuhan tersebut dalam kehidupan konkret, tidak boleh mengarah kepada menodai dan merendahkan nama dan sifat Tuhan tersebut. Hal ini akan memberikan petunjuk pembinaan kurikulum yang sesuai dan pengaturan lingkungan yang diperlukan.
Filsafat pendidikan Islan dalam analisanya  terhadap masalah-masalah pendidikan Islam masa kini yang dihadapinya, akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan Islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan Islam yang ideal atau tidak. Dapat dirumuskan dimana letak kelemahannya, dan dengan demikian bisa memberikan alternatif-alternatif perbaikan dan pengembangannya.
Dengan demikian peranan filsafat pendidikan Islam menuju kedua arah yaitu kerah pengembangan konsep-konsep filosofis dari pendidikan Islam yang secara otomatis akan menghasilkan teori-teori baru dalam ilmu pendidikan Islam, dan kedua kearah perbaikan dan pembaharuan praktek dan pelaksanaan pendidikan Islam.


BAB III
KESIMPULAN

Secara bahasa filsafat berasal sari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, yakni gabungan dari kata “philos” yang artinya cinta, dan “sophos” berarti kebijaksanaan. Padanan dari bahasa Arabnya adalah Falsafah dan bahasa Inggrisnya Philosophy, serta dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah “hikmah” yang berarti kebijaksanaan.
Sedangkan menurut istilah, filsafat adalah suatu proses mendayagunakan seluruh potensi yang ada pada manusia melalui berpikir secara kritis, mendalam/ radikal, logis, universal, mengikuti prosedur berpikir tertentu (sistematis), dan bersifat subyektif atau relatif.
Pendidikan Islam adalah suatu proses edukatif yang mengarah kepada pendidikan akhlak (moral) atau kepribadian atau usaha untuk mengembangakan seluruh potensi yang ada pada manusia baik lahir maupun batin agar terbentuknya pribadi Muslim seutuhnya.
Jika dikaitkan dengan pendidikan Islam, maka yang dimaksud dengan filsafat pendidikan Islam adalah sebagai upaya pembahasan pendidikan Islam secara filosofis, baik dari sudut pandang penerapan metode filsafat atau metode analitik ke dalam pendidikan Islam.
Filsafat pendidikan Islam erat kaitannya dengan masalah pendidikan yang bersifat filosofi. Salah satu contohnya adalah masalah kurikulum, dengan bahasan apa yang akan diberikan kepada peserta didik, tujuan pendidikan, dan berbagai aspek pendidikan Islam lainnya.




DAFTAR PUSTAKA

Alfiyah, Hanik Yuni. Konsep Pendidikan Imam Zarnuji dan Paulo Freire Volume 02 Nomor 02 November 2013. Surabaya: JIES, 2013.
Ali, Mohammad Daud. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011.
Assegaf, Abd. Rachman. Aliran Pemikiran Pendidikan Islam: Muhadharah Keilmuan Tokoh Klasik Sampai Modern. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013.
Bertens, Kess Sejarah Filsafat Yunanai. Yogyakarta: Kanisius, 1998.
Biyanto, Filsafat Ilmu dan Keislaman Cet I. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.
Darwis, Maidar. Konsep Pendidikan Islam Dalam Perspektif Ibnu Sina Volume XIII No. 2 Februari 2013. Banda Aceh: JID, 2013.
Daulay, Haidar Putra. Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat. Jakarta: Kencana, 2016.
Fahmi, Muhammad. Pendidikan Islam Perspektif Fazlur Rahman Volume 02 Nomor 02 November 2014. Surabaya: JIES, 2014.
H, M. Fazlurrahman Pendekatan Aksiologis Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam dan Barat Vol. 6 No. 2. Surabaya: JIES, 2018.
Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1996.
Supriyadi, Dedi. Pengantar Filsafat Islam: Konsep, Filsuf, dan Ajarannya. Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Harahap, Syahrin. Islam & Modernitas: Dari Teori Modernisasi Hingga Penegakan Kesalehan Modern. Jakarta: Kencana, 2015.
Jalaluddin dan Said, Usman. Filsafat Pendidikan Islam Konsep dan Perkembangan Dr. Jalaluddin dan Drs. Usman Said. Jakarta: Raja Gravindo Persada, 1996.
Mujib, Abdul. Kepribadian Dalam Psikologi Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007.
Ramyulis, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 1998.
Soyomukti, Nurani. Teori-Teori Pendidikan: Dari Tradisional, Neo (Liberal), Marxis-Sosialis, hingga Postmodern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017.
Sutikno, Pola Pendidikan Islam dalm Surat Luqman ayat 12-19 Volume 02 Nomor 02 November 2013. Surabaya: JIES, 2013.
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan dalam Persepektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.
Yusuf, Arbaiyah. Filsafat Pendidikan Islam. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2014.
Zuhairini. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1995.









Comments

Post a Comment