Filsafat pendidikan islam "kedudukan manusia di atas semesta kelompok 1 (semster 6)

A. edudukan Manusia Diatas Semesta
Kedudukan manusia di alam ini yang sering diangkat oleh para pakar adalah sebagai hamba yang harus beribadah kepada Allah. Manusia sebagai makhluk yang paling mulia diberi potensi untuk mengembangkan diri dan kemanusiaannya. Potensi-potensi tersebut merupakan modal dasar bagi manusia dalam menjalankan berbagai fungsi dan  tanggungjawab  kemunusiaannya.  Agar  potensi-potensi  itu  menjadi aktual dalam kehidupan perlu dikembangkan dan digiring pada penyempurnaan-penyempurnaan melalui upaya pendidikan, karena itu diperlukan penciptaan arah bangun pendidikan yang menjadikan manusia layak   untuk   mengembang   misi   Ilahi.   Beribadah   berarti   mencakup keseluruhan kegiatan manusia dalam hidup di dunia ini, termasuk kegiatan duniawi sehari-hari, jika kegiatan itu dilakukan dengan sikap batin serta niat pengabdian dan penghambaan diri kepada Tuhan, yakni sebagai tindakan bermoral yakni untuk menempuh hidup dengan kesabaran penuh bahwa makna dan tujuan keberadaan manusia ialah “perkenan” atau ridha Allah swtSemakin kokoh hubungan manusia dengan alam raya dan semakin dalam  pengenalan tehadapnya, akan semakin banyak  yang dapat diperolehnya melalui alam raya ini. Dan keharmonisan hubungan melahirkan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Perkembangan inilah yang merupakan arah yang dituju oleh masyarakat religious yang Islami sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur’an Surah Al-Fath/72:16) yang mengibaratkan masyarakat Islam yang ideal, dengan terjemahan: “...sebagai tanaman  yang tumbuh berkembang sehingga mengeluarkan tunasnya dan tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya.
Keharmonisan tidak mungkin tercipta kecuali jika dilandasi oleh rasa aman.Karena itu pula, setiap aktivitas istikhlaf (pembangunan) baru dapat dinilai sesuai dengan etika agama, apabila rasa aman dan sejahtera menghiasi setiap anggota masyarakat. Dengan kata lain, pembangunan yang dihiasi oleh etika agama adalah yang mengantar manusia menjadi lebih bebas dari penderitaan dan rasa takut. Kesabaran dan ketabahan merupakan etika atau sikap terpuji, karena ia adalah kekuatan, yaitu kekuatan seseorang dalam menanggung beban atau menahan gejolak keinginan negative. Keberanian merupakan kekuatan karena pemiliknya mampu melawan dan menundukkan kejahatan, dan kasih sayang dan uluran tangan adalah juga kekuatan.


Arah yang dituju oleh ikhtilaf adalah kebebasan manusia dari rasa takut, baik dalam kehidupan dunia ini atau yang berkaitan dengan persoalan sandang, pangan dan papan, maupun ketakutan-ketakutan lainnya yang berkaitan dengan masa depannya yang dekat atau  yang jauh di akhirat kelak.
Hakikat Manusia
Manusia adalah keyword yang harus dipahami terlebih dahulu bila kita ingin memahami pendidikan. Untuk itu perlu kiranya melihat secara lebih rinci tentang beberapa pandangan mengenai hakikat manusia:
Manusia Menurut Pandangan Islam.
Ada beberapa dimensi manusia dalam pandangan Islam, yaitu:
1. Manusia Sebagai Hamba Allah (Abd Allah)
Sebagai hamba Allah, manusia wajib mengabdi dan taat kepada Allah selaku Pencipta karena adalah hak Allah untuk disembah dan tidak disekutukan.. Dengan demikian manusia sebagai hamba Allah akan menjadi manusia yang taat, patuh dan mampu melakoni perannya sebagai hamba yang hanya mengharapkan ridha Allah.
2. Manusia Sebagai al- Nas
Manusia di dalam al- Qur’an juga disebut dengan al- nas. Konsep al- nas ini
cenderung mengacu pada status manusia dalam kaitannya dengan lingkungan masyarakat di sekitarnya. Berdasarkan fitrahnya manusia memang makhluk sosial.
Dalam hidupnya manusia membutuhkan pasangan, dan memang diciptakan     berpasang-pasangan. Manusia adalah makhluk sosial, yang dalam hidupnya membutuhkan manusia dan hal lain di luar dirinya untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya agar dapat menjadi bagian dari lingkungan soisal dan masyarakatnya.
3. Manusia Sebagai khalifah Allah
Hakikat manusia sebagai khalifah Allah di bumi dijelaskan dalam surah al-Baqarah ayat 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat:“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata:”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.” (QS:2: 30),
Dari ayat di atas dapat dijelaskan bahwa sebutan khalifah itu merupakan anugerah dari Allah kepada manusia, dan selanjutnya manusia diberikan beban untuk menjalankan fungsi khalifah tersebut sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Sebagai khalifah di bumi manusia mempunyai wewenang untuk memanfaatkan alam (bumi) ini untuk memenuhi Kebutuhan hidupnya sekaligus bertanggung jawab terhadap kelestarian alam ini.
4. Manusia Sebagai Bani Adam
Sebutan manusia sebagai bani Adam merujuk kepada berbagai keterangan dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia adalah keturunan Adam dan bukan berasal dari hasil evolusi dari makhluk lain seperti yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Konsep bani Adam mengacu pada penghormatan kepada nilainilai kemanusiaan. Konsep ini menitikbertakan pembinaan hubungan persaudaraan antar sesama manusia dan menyatakan bahwa semua manusia berasal dari keturunan yang sama. Dengan demikian manusia dengan latar belakang sosia kultural, agama, bangsa dan bahasa yang berbeda tetaplah bernilai sama, dan harus diperlakukan dengan sama. Dalam surah al- A’raf dijelaskan:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, semoga mereka selalu ingat. (QS. 7: 26).

5. Manusia Sebagai al- Insan
Manusia disebut al- insan dalam al- Qur’an mengacu pada potensi yang diberikan Tuhan kepadanya. Potensi antara lain adalah kemampuan berbicara, kemampuan menguasai ilmu pengetahuan melalui proses tertentu dan lain-lain. Namun selain memiliki potensi positif ini, manusia sebagai al- insan juga mempunyai kecenderungan berprilaku negatif (lupa). Misalnya dijelaskan dalam surah Hud:
وَلَئِنْ أَذَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَٰهَا مِنْهُ إِنَّهُۥ لَيَـُٔوسٌ كَفُورٌ
 “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat, kemudian rahmat itu kami cabut dari padanya, pastilah ia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” (QS: 11:9).

6. Manusia Sebagai Makhluk Biologis (al- Basyar)
Hasan Langgulung mengatakan bahwa sebagai makhluk biologis manusia
terdiri atas unsur materi, sehingga memiliki bentuk fisik berupa tubuh kasar (ragawi). Dengan kata lain manusia adalah makhluk jasmaniah yang secara umum terikat kepada kaedah umum makhluk biologis seperti berkembang biak, mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan, serta memerlukan makanan untuk hidup, dan pada akhirnya mengalami kematian.

Wujud Hakikat Manusia (Karakteristik Manusia)
Beberapa wujud hakikat manusia yang dijelaskan di bawah ini akan memberikan gambaran yang jelas bahwa manusia berbeda dengan hewan. Wujud sifat hakikat manusia ini merupakan karakteristik yang hanya dimiliki oleh manusia. Faham eksistensialisme mengemukakan bahwa karakteristik manusia tersebut seharusnya menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan dan membenahi arah dan tujuan pendidikan. Umar Tirta Raharja dan La Sulo mengatakan di antara wujud sifat hakikat manusia adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan Menyadari Diri
Melalui kemampuan ini manusia betul-betul mampu menyadari bahwa dirinya memiliki ciri yang khas atau karakteristi diri. Kemampuan ini membuat manusia bisa beradaptasi dengan lingkungannya baik itu limgkungan berupa individu lainnya selain dirinya, maupun lingkungan nonpribadi atau benda. Kemampuan ini juga membuat manusia mampu mengeksplorasi potensi-potensi yang ada dalam dirinya melalui pendidikan untuk mencapai kesempurnaan diri. Kemampuan menyadari diri ini pula yang membuat manusia mampu mengembangkan aspek sosialitas di luar dirinya sekaligus pengembangan aspek individualitas di dalam dirinya.
2. Kemampuan Bereksistensi
Melalui kemampuan ini manusia menyadari bahwa dirinya memang ada dan eksis dengan sebenarnya. Dalam hal ini manusia punya kebebasan dalam keberadaannya. Berbeda dengan hewan di kandang atau tumbuhan di kebun yang ada tapi tidak menyadari ‘keberadaan’ nya sehingga mereka menjadi onderdil dari lingkungannya. Sementara itu manusia mampu menjadi manajer bagi lingkungannya. Kemampuan ini juga perlu dibina melalui pendidikan. Manusia perlu diajarkan belajar dari pengalaman hidupnya, agar mampu mengatasi masalah dalam hidupnya dan siap menyambut masa depannya.
3. Pemilikan Kata Hati (Conscience of Man)
Yang dimaksud dengan kata hati di sini adalah hati nurani. Kata hati akan melahirkan kemampuan untuk membedakan kebaikan dan keburukan. Orang yang memiliki hati nurani yang tajam akan memiliki kecerdasan akal budi sehingga mampu membuat keputusan yang benar atau yang salah. Kecerdasan hati nurani inipun bisa dilatih melalui pendidikan sehingga hati yang tumpul menjadi tajam. Hal ini penting karena kata hati merupakan petunjuk bagi moral dan perbuatan.
4. Moral dan Aturan
Moral sering juga disebut etika, yang merupakan perbuatan yang merupakan wujud dari kata hati. Namun, untuk mewujudkan kata hati dengan perbuatan dibutuhkan kemauan. Artinya tidak selalu orang yang punya kata hati yang baik atau kecerdasan akal juga memiliki moral atau keberanian berbuat. Maka seseorang akan bisa disebut memiliki moral yang baik atau tinggi apabila ia mampu mewujudkanya dalam bentuk perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai moral tersebut.
5. Kemampuan Bertanggung Jawab
Karakteristik manusia yang lainnya adalah memiliki rasa tanggung jawab, baik itu tanggung jawab kepada Tuhan, masyarakat ataupu pada dirinya sendiri. Tanggung jawab kepada diri sendiri terkait dengan pelaksanaan kata hati. Tanggung jawab kepada masyarakat terkait dengan norma- norma sosial, dan tanggung jawab kepada Tuhan berkaitan erat dengan penegakan norma-norma agama. Dengan kata lain kata hati merupakan tuntunan, moral melakukan perbuatan,dan tanggung jawab adalah kemauan dan kesediaan menanggung segala akibat dari perbuatan yang telah dilakukan.
6. Rasa Kebebasan (Kemerdekaan)
Kebebasan yang dimaksud di sini adalah rasa bebas yang harus sesuai dengan kodrat manusia. Artinya ada aturan-aturan yang tetap mengikat, sehingga kebebasan ini tidak mengusik rasa kebebasan manusia lainnya. Manusia bebas berbuat selama perbuatan itu tetap sesuai denga kata hati yang baik maupun moral atau etika. Kebebasan yang melanggar aturan akan berhadapan dengan tanggung jawab dan sanksi-sanksi yang mengikutinya yang pada akhirnya justru tidak memberikan kebebasan bagi manusia.
7. Kesediaan Melaksanakan Kewajiban dan Menyadari Hak
Idealnya ada hak ada kewajiban. Hak baru dapat diperoleh setelah pemenuhan kewajiban, bukan sebaliknya. Pada kenyataanya hak dianggap sebagai sebuah kesenangan, sementara kewajiban dianggap sebagi beban. Padahal manusia baru bisa mempunyai rasa kebebasan apabila ia telah melaksanakan kewajibannya dengan baik dan mendapatkan haknya secara adil. Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak ini haru dilate melalui proses pendidikan disiplin. Sebagaimana dikutip oleh Umar dan La Sulo, Selo Soemarjan menyatakan bahwa perlu ditanamkan empat macam pendidikan disiplin untuk membentuk karakter yang memahami kewajiban dan memahami hak-haknya. 1) disiplin rasional yang bila dilanggar akan melahirkan rasa bersalah. 2) disiplin sosial, yang bila dilanggar akam menyebabkan rasa malu. 3) disiplin afektif, yang bila dilanggar akan melahirkan rasa gelisah dan 4) disiplin agama, yang bila dilanggar akan menimbulkan rasa bersalah dan berdosa.12
8. Kemampuan Menghayati Kebahagian
Kebahagian bisa diartikan sebagai kumpulan dari rasa gembira, senang, nikmat yang dialami oleh manusia. Untuk mendapatkan kebahagiaan seseorang harus berusaha. Usaha-usaha tersebut harus berlandaskan norma-norma atau kaidah-kaidah yang ada. Namun usaha-usaha yang dilakukan itu akan terkait erat dengan takdir Tuhan. Sehingga rasa menerima dan syukur akan mempengaruhi kemampuan manusia dalam menghayati kebahagian. Dalam hal ini, pendidikan agama menjadi modal utama untuk dapat menghayati kebahagian.

Eksistensi Manusia Dalam Pendidikan
Manusia adalah subyek pendidikan, sekaligus juga obyek pendidikan. manusia dewasa yang berkebudayaan adalah subyek pendidikan yang berarti bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan. mereka berkewajiban secara moral atas perkembangan pribadi anak-anak mereka, yang notabene adalah generasi penerus mereka. manusia dewasa yang berkebudayaaan terutama yang berprofesi keguruan (pendidikan) bertanggung jawab secara formal untuk melaksanakan misi pendidikan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai yang dikehendaki ,masyarakat bangsa itu. Manusia yang belum dewasa, dalam proses perkembangan kepribadiannya, baik menuju pembudayaan maupun proses kematangan dan intregitas, adalah obyek pendidikan. Artinya mereka adalah sasaran atau bahan yang dibina. Meskipun kita sadarai bahwa perkembangan kepribadian adalah self development melalui self actifities, jadi sebagai subjek yang sadar mengembangkan diri sendiri. Alam semesta adalah media pendidikan sekaligus sebagai sarana yang digunakan oleh menusia untuk melangsungkan proses pendidikan. Didalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri” dengan sesungguhnya. Karena antara manusia dan alam semesta saling membutuhkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Dimana alam semesta ini butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya. Proses pendidikan yang berlangsung didalam antar aksi yang pluralistis (antara subjek dengan lingkungan alamiah, sosial dan cultural) amat ditentukan oleh aspek manusianya. Sebab kedudukan manusia sebagai subyek didalam masyarakat, bahkan didalam alam semesta, memberikan konsekuensi tanggung jawab yang besar bagi diri manusia. Manusia mengembang amanat untuk membimbing masyarakat, memelihara alam lingkungan hidup bersama. bahkan manusia terutama bertanggung jawab atas martabat kemanusiaannyu (human dignity). Pendidikan berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran pada manusia, maka sangat urgen sekali untuk memperhatikan konsep atau pandangan Islam tentang manusia sebagai makhluk yang diproses kearah kebahagian dunia dan akhirat, maka pandangan Islam tentang manusia antara lain:
Pertama, konsep Islam tentang manusia, khsusunya anak, sebagai subyek didik, yaitu sesuai dengan Hadits Rasulullah, bahwa “anak manusia” dilahirkan dalam fitrah atau dengan “potensi” tertentu. Dalam al-Qur’an, dikatakan “tegakkan dirimu pada agama dengan tulus dan mantap, agama yang cocok dengan fitrah manusia yang digariskan oleh Allah. Tak ada perubahan pada ketetapan-Nya…..[ar-Rum : 30]. Dengan demikian, manusia pada mulanya dilahirkan dengan “membawa potensi” yang perlu dikembangkan dalam dan oleh lingkungannya. Pandangan ini, “berbeda dengan teori bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yaitu dengan membawa “potensi tabularasa yang menganggap anak menerima “secara pasif” pengaruh lingkungannya, sedangkan konsep fitrah mengandung “potensi bawaan” aktif [innate patentials, innate tendencies] yang telah di berikan kepada setiap manusia oleh Allah. Di samping itu, hal yang juga penting implikasinya bagi pendidikan adalah tanggung jawab yang ada pada manusia bersifat pribadi, artinya tidaklah seseorang dapat memikul beban orang lain, beban itu dipikul sendiri tanpa melibatkan orang lain [pada Faathir:18]. Sifat lain yang ada pada manusia adalah manusia diberi oleh Allah kemampuan al-bayan [fasih perkataan – kesadaran nurani] yaitu daya untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya melalui kemampuan berkomunikasi dengan bahasa yang baik [pada ar-Rahman:3-4]. Pada hadits Rasulullah, “barang siapa ingin mencapai kebahagian dunia harus ditempuh dengan ilmu dan barang siapa yang mencari kebahagian akhirat juga harus dengan ilmu, dan barang untuk mencari keduanya juga harus dengan ilmu”. Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa tugas dan fungsi pendidikan adalah mengarhkan dengan sengaja segala potensi yang ada pada seseorang seoptimal mungkin sehingga ia berkembang menjadi seorang muslim yang baik.
Kedua, peranan pendidikan atau pengarah perkembangan. Potensi manusia yang dibawah sejak dari lahir itu bukan hanya bisa dikembangkan dalam lingkungan tetapi juga hanya bisa berkembang secara terarah bila dengan bantuan orang lain atau pendidik. Dengan demikian, tugas pendidik mengarahkan segala potensi subyek didik seoptimal mungkin agar ia dapat memikul amanah dan tanggung jawabnya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, sesuai dengan profil manusia Muslim yang baik.
Ketiga, profil manusia Muslim. Profil dasar seorang Muslim yang baik adalah ketaqwaan kepada Allah. Dengan demikian, perkembangan anak haruslah secara sengaja diarahkan kepada pembentukan ketaqwaan.
Keempat, metodologi pendidikan. Metodologi diartikan sebagai prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan mengarahkan perkembangan seseorang, khususnya pada proses belajar-mengajar. Maka, pandangan bahwa seseorang dilahirkan dengan potensi bawaan tertentu dan dengan itu ia mampu berkembang secara aktif dalam lingkungannya, mempunyai implikasi bahwa proses belajar-mengajar harus didasarkan pada prinsip belajar siswa aktif [student active learning]. Jadi, dari pandangan di atas, pendidikan menurut Islam didasarkan pada asumsi bawaan” seperti potensi “keimanan”, potensi untuk memikul amanah dan tanggung jawab, potensi kecerdasan, potensi fisik. Karena dengan potensi ini, manusia mampu berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya dan dengan bantuan orang lain atau pendidik secara sengaja agar menjadi manusia muslim yang mampu menjadi khalifah dan mengabdi kepada Allah.
Sebagai subjek yang mempunyai potensi-potensi lahir batin, manusia melakukan prakarsa, rasa dan karsa, bahkan juga karya dan prestasi karena dorongan-dorongan yang amat kompleks. Dorongan-dorongan tersebut dapat terjadi karena faktor-faktor objektif (kebutuhan), dapat pula karena faktor-faktor subjektif (cinta, pengabdian). Bahkan dapat juga karena alasa-alasan moral (tanggung jawab), kewajiban, harga diri dan nilai-nilai. Dengan demikian, memahami manusia haruslah dalam persoalan yang berkaitan erat dengan dunia manusia, yakni kebudayaan manusia secara keseluruhan. Apakah yang dimaksud dengan dunia manusia di atas? Dalam rangka itulah kita perlu mengadakan reorentasi atas demensi-demensi ruang lingkup kesadaran manusia. Hal ini akan menjadi lebih jelas dalam uraian antropologia metafisika tentang hakikat manusia. Ilmu yang mempelajari hakikat manusia disebut antropologia metafisika, yang berkesimpulan bahwa hakikat manusia integritas antara kesadaran-kesadaran: Manusia sebagai makhluk individu Kesadaran manusia akan diri sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia. Kesadaran diri sendiri yang dimulai dengan kesadaran adanya pribadi di antara segala realitas adalah pangkal segala kesadaran terhadap segala sesuatu.
Dengan bahasa filsafat dinyatakan self-existensi adalah sumber pengertian manusia akan segala sesuatu. Self-existensi ini mencakup pengertian yang amat luas, terutama meliputi: kesadaran adanya diri di antara semua realita, self-respect, self-narcisme, egoisme, martabat kepribadian, perbedaan dan persamaan dengan pribadi lain, khususnya kesadaran akan potensi-potensi pribadi yang menjadi dasar bagi self-realisasi. Makin manusia sadar akan diri sendiri sesungguhnya makin sadar akan kesemestaan, karena posisi manusia adalah bagian yang tak tepisahkan dari semesta. Antar hubungan dan antar aksi pribadi itu pula yang melahirkan konsekuensi-konsekuensi seperti hak (asasi) dan kewajiban, norma-norma moral, nilai-nilai sosial, bahkan juga nilai-nilai supranatural berfungsi untuk manusia. Dengan demikian kesadaran manusia sebagai pribadi merupakan kesadaran yang paling dalam, sumber kesadaran subjek yang melahirkan kesadaran lain. Manusia sebagai makhluk sosial, dan Self-existensi, kesadaran diri sendiri membuka kesadaran atas segala sesuatu sebagai realita di samping realita subjek. Meskipun diri kita sebagai pribadi adalah subjek yang menyadari, namun diri kita bukanlah pusat dari segala realita. Sebab, kedudukan setiap pribadi mempunyai martabat kemanusiaan (human dignity) yang sederajat, maka wajarlah bahwa kita menghormati setiap pribadi. Untuk dihormati adalah hak kita dan setiap orang. Sebaliknya untuk menghormati setiap pribadi adalah kewajiban kita dan setiap pribadi lain.
Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial (sosial being) terutama nampak dalam kenyataan bahwa tak pernah ada manusia yang mampu hidup tanpa bantuan orang lain. Orang lain dimaksud paling sedikit ialah orang tuanya, keluarga sendiri. Realita ini menunjukkan bahwa manusia hidup dalam interdependensi, antar hubungan dan anteraksi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga satu kesatuan hidup, warga masyarakat, warga negara dan sebaginya. Manusia tidak hanya interdependensi dalam hal materiil-ekonomis saja, melainkan lebih mengandung makna psikologis, yakni dorongan cinta dan dicintai, di mana kebahagiaan terutama terletak dalam kepuasan jiwa ini. Jadi esensi manusia sebagai makhluk sosial ialah adanya kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya dalam kehidupan bersama dan bagaimana tanggung jawab dan kewajibannya dalam kebersamaan itu. Adanya kesadaran interdependensi dan saling membutuhkan serta dorongan-dorongan untuk mengabdi sesamanya adalah asas sosialitas itu. Manusia sebagai makhluk susila (moral being) Pribadi manusia yang hidup bersama itu melakukan hubungan dan interaksi baik langung maupun tidak. Di dalam proses interaksi itu tiap pribadi membawa identitas dan kepribadian masing-masing. Tiap hubungan sosial mengandung hubungan moral. Peran Ketiga Hakikat Tersebut Dalam Pendidikan Manusia adalah subjek sekaligus juga sebagai objek pendidikan. Manusia dewasa yang berkebudayaan adalah subjek pendidikan dalam arti yang bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan. Mereka berkewajiban secara moral atas perkembangan pribadi anak-anak mereka, generasi penerus mereka. Manusia dewasa yang berkebudayaan, trutama yang berprofesi keguruan (pendidikan) bertanggung jawab formal untuk melaksanakan misi pendidikan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai yang dikehendaki masyarakat bangsa itu. Perwujudan kepribadian seseorang nampak dalam keseluruhan pribadi manusia dalam interaksinya dengan lingkungan hidupnya. Proses pendidikan yang berlangsung secara pluralitas (subjek dengan lingkungan alamiah, sosial dan kultural) amat ditentukan oleh aspek manusianya. Sebab kedudukan manusia sebagai subjek di dalam masyarakat, bahkan dalam alam semesta, memberikan konsekuensi tanggung jawab yang besar bagi manusia. Manusia mengemban amanat untuk membina masyarakat, memelihara alam lingkungan hidup bersama. Bahkan terutama bertanggung jawab atas martabat kemanusiaannya (human dignity). Jadi manusia sebagai makhluk individu berperan aktif bahkan wajib dalam menyelenggarakan pendidikan baik secara formal atau non formal. Sebagai makhluk sosial dia sudah semestinya memiliki rasa kebersamaan dan kerjasama dalam hal memajukan pendidikan untuk generasi mereka, baik dalam lingkup kependidikan ataupun dalam lingkup masyarakat. Dari interaksi dan peran tanggung jawab itu pula manusia sudah semestinya menimbulkan moralitas agar kebersamaan itu langgeng dalam melestarikan jati dirinya sebagai makhluk yang beradab.

Comments