Dasar pendidikan islam
Karya bayu, abu aman dan fatira
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Seorang manusia adalah makhluq terbaik, teristimewa yang diciptakan Alloh daripada Makhluk yang lain. Manusia oleh Alloh di amanahi untuk menjadi Kholifah di muka bumi, disamping manusia menjadi hamba. Namun keberadaan manusia yang menjadi khlifah ini, ini mampu merusak dan mampu meningkatkan kualitas yang telah Alloh berikan daripada makhluq lain, Karena itu manusia diberi akal dan nafsu, dengan akalnya ia mampu mengemban amanah dari Alloh untuk senantiasa meningkatkan kualitas bumi, merawat, dan menjaganya. Namun dengan nafsu yang tak bisa dikendalikannya manusia mampu menjadi hamba yang jauh lebih buruk dari setak, ia mampu merusak bumi ini dalam kejapan mata.
Oleh karena itu untuk mengontrol hal hal yang tidak diinginkan manusia dibekali akal untuk mampu mengaktulisasikan kelebihan yang ada padanya. Dengan Pendidikanlah manusia mampu melakukan itu, apalagi ketika pendidikan itu berpadu dengan ajaran syariat Islam. Maka akan tercipta lah tujuan Alloh menciptakan manusia, karena mereka telah menjalankan pendidikan sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu hal yang mendasar yang perlu kita ketahui adalah dasar dasarnya, salh satunya yaitu hal yang mendasar seputar pendidikan Islam seperti dasar, hakikat, tugas, fungsi dan tujuan pendidikan Islam.
Rumusan Masalah
Dasar yang dipakai di dalam Pendidikan Islam
Hakikat dalam Pendidikan Islam
Tugas tugas yang ada dalam Pendidikan Islam
Fungsi / kegunaan adanya Pendidikan Islam
Tujuan adanya Pendidikan Islam
Tujuan Masalah
Agar kita bisa memahami dasarnya atau yang menjadi pedoman Pendidikan Islam gunanya untuk memperkuat dan memantapkan pengetahuan kita sebelum memasuki tahap pengetahuan tentang Pendidikan Islam selanjutnya
Untuk memberitahukan kepada pembaca tentang adanya hakikat pendidikan
Menginformasikan kepada pembaca ada banyak tugas dalam Pendidikan Islam
Agar pembaca memahami akan Fungsi Pendidikan Islam
Untuk mudahkan pembaca dalam mengetahui sebenarnya tujuan dalam adanya Pendidikan Islam
BAB II
PEMBAHASAN
Dasar Pendidikan Islam
Dasar pendidikan Islam adalah indentik dengan dasar Islam itu sendiri. Berasal dari sumber yang sama yaitu al Quran dan hadits. Kemudian dasar tadi dikembangkan dalam pemahaman para ulama dalam bentuk qiyas Syari, ijma yang diakui, ijtihad dan tafsir yang benar dalam bentuk hasil pemikiran yang menyeluruh dan terpadu tentang jagat raya, manusia ,masyarakat dan bangsa, pengetahuan kemanusiaan dan akhlaq, dengan sumber utama
Dijadikannya Alquran dan Hadits sebagai dasar pemikiran dalam membina sistem pendidikan itu bukan karena kenyakinan semata, tapi kebenaran yang ada dalam keduanya karena diterima oleh nalar dan telah dibuktikan dengan sejarah yang telah terjadi dimasa lampau. Maka dari itu wajar jika kebenaran itu kita kembalikan pada pembuktian akan kebenaran pernyataan Alloh yang artinya “ tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.
Kebenaran yang dikemukan Nya mengandung kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran yang spekulatif , dan juga tidak bersifat tentative (sementara). Berbeda dengan kebenaran yang dibuat hasil pemikiran manusia. Kebenaran produk nalar manusia, bagaimanapun terbatas oleh ruang dan waktu., dan bersifat tentative (sementara). Berbeda dengan kebenaran yang dibuat hasil pemikiran manusia. Kebenaran produk nalar manusia, bagaimanapun terbatas oleh ruang dan waktu. Selain itu hasil nya bersifat subjektifitas (sesuai sudut pandangnya masing masing) adanya kedua factor ini mendorong hasil pemikiran para ahli pendidikan untuk membuahkan konsep pendidikan yang sesuai dengan pandangan hidup masing-masing.
Hakikat Pendidikan Islam
Manusia adalah Makhluq Allah dan manusia juga bagian yang tidak terpisahkan dari alam semesta ini,namun manusia adalah makhluq yang paling istimewa dan telah diistimewakan oleh Nya. Dalam surat Al Isro ayat 70 Allah menganugrahkan dan memuliakan manusia dengan berbagai kelebihan dibandingkan makhluq lainnya . diciptakan dalam struktur yang sebaik baiknya QS: Attin ayat 4, dan dalam Surat Al Baqaroh ayat 30 Alloh telah berfirman bahwa manusia itu di beri amanah oleh Alloh sebagai Kholifah di muka Bumi.
Dengan statusnya sebagai makhluk bumi (alam), manusia memiliki kesamaan dengan makhluk lainnya secara alamiyah, adalah muslim, terikat, tunduk dan patuh pada hukum hukum alam, tetapi sebagai makhluq tertinggi yang sekaligus sebagai kholifah di Bumi, manusia dianugrahi dengan kesadaran dan kemampuan potensial untuk mengatasi alam.
Manusia memiliki akal yang jika digunakan secara tepat dan benar, maka akan mampu melaksanakan tugas kepemimpinan di muka bumi dengan baik. Dengan akalnya tersebut manusia mampu memahami dan mengetahui rahasia-rahasia dan hukum hukum yang berlaku di alam ini, yang dengan ini manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang dan sosialisasinya. Dengan akal dan ilmu pengetahuannya, manusia mampu merekayasa dan memanfaatkan hukum hukum dan kekayaan alam ini untuk kepentingan dan memenuhi kebutuhan manusia , yang dengan ini manusia mampu mengembangkan tegnologi yang semakin canggih dalam mengolah dan mengelola alam ini,. Tegnologi bisa menjaga kelestarian lingkungan, namun dengan tegnologi pula akan terjadi pengerusakan pengerusakan terhadap lingkungan alam .
Untuk membimbing, mengajari dan melatih manusia agar mampu melaksanakan tugas-tugas hidup dengan baik dan bertanggung jawab, maka Allah sebagai pemilik alam, telah mengutus Rasul-RasulNya sepanjang sejarah. Alloh mengutus mereka dengan tujuan untuk menyampaikan ajaran dan petunjuk serta jalan hidup yang Islami. Inilah konsep dasar pendidikan Islam itu. Rasul Rasul diutus tidak hanya menyampaikan ajaran saja tetapi juga untuk membimbing pertumbuhan dan perkembangan akal dan budinya manusia dalam mewujudkan kehidupan sosial budaya dan peradabadan Islami. Rangkaian Kisah kisah dalam Alquran seputar Nabi, menunjukkan bahwa Allah telah mempersiapkan dengan membimbing, mengajari dam ,melatihmya agar manusia mampu melaksanakan tugas tugas kekholifahan di muka bumi dengan sebaik-baiknya.
Nabi Adam sebagai Rasul pertama, telah dipersiapkan Allah untuk meletakkan dasar dasar tonggak awal budaya dan peradaban umat manusia di bumi (QS : Al Baqoroh ayat 30-38 ). Kemudian melalui proses pewarisan dari generasi ke generasi, sistem kehidupan sosial budaya dan peradaban manusia mengalami proses tumbuh kembang. Apabila proses pertumbuhan dan perkembangan mengalami kemacetan atau menyimpang dari tujuan semula sebagai Khalifah , atau manusia menghadapi situasi kritis di mana akal pikirannya tidak mampu memecahkan persoalannya, maka Allah mengutus Rasul untuk mendinamiskan, meluruskan dan memecahkan permasalahan kehidupan sosial budaya dan peradaban umat manusia tersebut.
Nabi Nuh Misalnya disamping tugasnya menyampaikan ajaran ajaran Islam kepada umatnya, ia juga telah menyelamatkan dan memacu perkembangan kehidupan sosial budaya dan peradaban umat manusia. Dengan bimbingan Allah nabi Nuh mampu membuat perahu guna menyelamatkan umatnya (QS : Hud : 37-38). Ternyata dengan perahu tersebut kemudian dikembangkan oleh manusia menjadi alat trransportasi yang sangat penting peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya dan peradaban manusia di muka bumi ini. Begitu juga dengan nabi Ibarahim dengan karya besarnya membangun kabah yang pertama, di Makka (QS : Al Baqarah : 125-126 ; Ali Imron : 96 ), dari karya tersebut kemudian berkembang tradisi bermukim pada suatu daerah, membentuk perkampungan dan perkotaan dengan bangunan perusahaannya, dari itu pula berkembang suatu masyarakat perkotaan dengan ciri-ciri budayanya yang berbeda dengan masyarakat.
Rasul Rasul berikutnya juga ikut berpartisipasi dalam budaya dan perkembangan manusia seperti, nabi Yusuf telah berjasa dalam meletakkan dasar dasar perekonomian dan perbendaharaan serta adminitrasi negara ( QS : Yusuf : 55-56 ). Nabi Daud telah menciptakan peralatan dari besi yang merupakan cikal bakal perkembangan tegnologi manusia ( QS : Saba : 10 ; An Anbiya : 80 ). Kemudian nabi Isa memperkenalkan sistem pengobatan (QS :Al Maidah : 3 ). Dengan telah diutusnya nabi Muhammad sebagai rasul terakhir, memberikan petunjuk bahwa pendidikan Islam telah mencapai kesempurnaan tingkat kedewasaannya. Dan konsekuensinya, tanggung jawab pendidikan Islam sekarang dilimpahkan oleh Allah ke tangan manusia sendiri, sebagai kholifah Nya.
Dalam hal ini, pendidikan Islam tersebut menjadi bagian integral dari tugas kekholifahan manusia di muka bumi. Alquran sebagai pedoman dasar bagi pelaksanaan pendidikan Islam dan As Sunnah sebagai sumber operasional dari pelaksanaan ajaran dan pedoman operasional bagi penyelenggara tugas kependidikan Islam. Sebagai mana yang dipesankan nabi Muhammad bahwa aku tinggalkan padamu dua perkara yang jika kamu berpegang teguh pada keduanya kamu tidak akan tersesat selamanya, yaitu Al Quran dan As Sunnah.
Al-Qur'an dan Sunnah Rasul merupakan sumber ajaran Islam, maka pendidikan Islam pada hakekatnya tidak boleh lepas dari kedua sumber tersebut. Dalam kedua sumber tersebut pendidikan lebih dikenal dengan istilah-istilah yang pengertiannya terkait dengan pendidikan, yaitu at-Tarbiyah.
Pendidikan atau at-tarbiyah menurut pandangan Islam adalah bagian dari tugas manusia sebagai Khalifah Allah di bumi. Allah adalah Rabb al-’Alamin juga Rabb al-Nas. Tuhan adalah “yang mendidik makhluk alamiah dan juga yang mendidik manusia.” Sebagai khalifah Allah, manusia mendapat kuasa dan limpahan wewenang dari Allah untuk melaksanakan pendidikan terhadap alam seisinya dan manusia, oleh karenanya dalam konteks masalah ini manusialah yang bertanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan tersebut.
Pendidikan secara teoritis mengandung pengertian memberi makan kepada jiwa seseorang sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah. Pendidikan bila ingin diarahkan kepada pertumbuhan yang sesuai dengan ajaran Islam, maka harus berproses melalui formal maupun melalui non formal yang berpedoman pada syari’at Islam.
Syariat Islam “tidak akan dihayati dan diamalkan orang kalau diajarkan saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan.” Dari satu segi, kita melihat bahwa pendidikan Islam itu banyak ditujukan kepada kebaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain. Di sisi lain, pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoritis saja tapi juga praktis. Ajaran Islam juga tidak memisahkan antara iman dan amal sholeh.
Esensi pendidikan Islam yang dilandasi oleh filsafat pendidikan Islam yang benar dan yang mengarahkan pada proses pendidikan Islam, M. Fadil Al-Djamali, Guru Besar Universitas Tunisia, mengungkapkan cita-citanya bahwa pendidikan yang harus dilaksanakan umat Islam adalah “pendidikan keberagamaan yang berlandaskan keimanan yang berdiri di atas filsafat pendidikan yang bersifat menyeluruh yang berlandaskan iman pula.”
Jadi, jelaslah bahwa proses pendidikan merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan di dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual dan sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar di mana ia hidup. Proses tersebut harus senantiasa berada di dalam nilai-nilai Islami, yaitu nilai-nilai yang melahirkan norma-norma syari’ah yang sesuai dengan pendidikan Islam.
Dan kesimpulan yang bisa diambil bahwa Pendidikan Islam itu hakikatnya adalah bimbingan dari Al Quran agar manusia mampu hidup dan berkehidupan serta melaksanakan tugas kekholifahan di muka bumi.
Disamping itu dalam karya Arifin Hakikat Pendidikan Islam adalah seorang muslim dewasa dan bertaqwa yang berusaha untuk mengarahkan dan membimbing dalam pertumbuhan serta perkembangan kemampuan dasar sampai kearah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangan anak didik melalui ajaran Islam
Dari kedua pendapat diatas dan uraian penjelas diatas penulis bisa mengambil kesimpulan Hakikat Pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan oleh muslim dewsa dan bertaqwa untuk membimbing anak didiknya dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak didiknya dari kemampuan dasar yang ia miliki sampai ke arah titik yang maksimal agar manusia itu mampu hidup dan berkehidupan serta melaksanakam tugas sebagai hamba Alloh dan kholifah Allah di muka bumi.
Tugas Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah pendidikan tanpa batas waktu dan akan berjalan dinamis sesuai dengan keuniversalan Islam itu sendiri. Sehingga dalam tugasnya pendidikan Islam adalah harus berjalan sesuai dengan kebutuhan manusia secara luas dari berbagai aspek kehidupan. Menurut Muhaimin dan Abdul Mujib dalam bukunya "Pemikiran Pendidikan Islam" menyatakan bahwa, “tugas dari pendidikan Islam meliputi tiga unsur, yaitu sebagai pengembang potensi, pewarisan budaya dan sebagai interaksi antara potensi dan budaya”. Untuk lebih jelasnya akan penulis uraikan satu demi satu.
Pendidikan Islam Sebagai Pengembang Potensi
Allah SWT telah menciptakan manusia di dunia, untuk bertugas pokok menyembah Khaliknya juga bertugas mengelola dan memanfaatkan kekayaan yang terdapat di bumi agar manusia dapat hidup sejahtera dan makmur lahir batin.
Manusia diciptakan Allah selain menjadi hamba-Nya juga menjadi penguasa (khalifah) di atas bumi. Selaku hamba dan khalifah, manusia telah diberi kelengkapan kemampuan jasmani (fisiologis) dan rohaniah (mental psikologis) yang dapat dikembang tumbuhkan seoptimal mungkin, sehingga menjadi alat yang berdaya guna dalam ikhtiar kemanusiaannya untuk melaksanakan tugas pokok kehidupan di dunia.
Untuk mengembangtumbuhkan kemampuan dasar jasmaniah dan rohaniah tersebut, pendidikan merupakan sarana (alat) yang menentukan sampai di mana titik optimal kemampuan-kemampuan tersebut dapat dicapai. Pendidikan adalah proses untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang dimiliki manusia, dalam arti untuk menampakkan atau mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki manusia.
Pendidikan Islam telah memberikan resep kehidupan yang menyeluruh untuk digunakan sebagai landasan hidup manusia dalam segala jaman dan dalam segenap bidang kehidupan manusia. Resep demikian tidak akan berguna bila mana manusia itu sendiri sebagai konsumernya tidak dibekali kemampuan untuk mengaktualisasikannya melalui proses pendidikan yang sesuai dengan ajaran agama yang telah diperintahkan Allah kepada hamba-Nya.
Oleh karena itu akhir dari tujuan pendidikan Islam berada di garis yang sama dengan misi tersebut yaitu membentuk kemampuan dan bakat manusia agar mampu menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan yang penuh rahmat dan berkat Allah di seluruh penjuru alam. Hal ini berarti bahwa potensi yang dimiliki manusia akan dapat diapresiasikan melalui ikhtiarnya yang bersifat kependidikan secara terarah dan tepat.
Selain pendidikan, dalam rangka mengembangkan potensi atau kemampuan dasar, manusia juga membutuhkan adanya bantuan dari orang lain untuk membimbing, mendorong dan mengarahkan agar berbagai potensi tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan optimal, sehingga kelak hidupnya dapat berdaya guna dan berhasil guna. Dengan demikian manusia akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya.
Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa pendidikan itu berusaha untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki manusia, baik jasmaniah maupun rohaniah, sehingga dengan pendidikan akan tercapai kehidupan yang harmonis, seimbang antara kebutuhan fisik material dengan kebutuhan mental spiritual dan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Pendidikan Islam sebagai Internalisasi Nila-nilai Islamiah
Tugas pendidikan Islam selanjutnya adalah mewariskan nilai-nilai Islam. Hal ini dikarenakan nilai-nilai Islam akan mati bila nilai-nilai dan norma-norma agama tidak berfungsi dan belum sempat diwariskan ke generasi berikutnya.
Nilai-nilai Islam dan peradaban tidak dapat dipisahkan dengan kelahiran Islam itu sendiri. Maka dari itu lembaga-lembaga pendidikan memiliki tugas selain mengembangkan perolehan pengalaman, lembaga pendidikan harus mampu mengupayakan perolehan pengalaman generasi terdahulu melalui transfer tradisi. Islam mengemban tugas menghidupkan kembali tradisi, konsep keagamaan dan mewariskan ilmu-ilmu yang diperoleh dari kitab-kitab lama ke generasi selanjutnya.
Pendidikan Islam sebagai alat internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam masyarakat, memiliki watak lentur terhadap perkembangan aspirasi kehidupan manusia sepanjang jaman. Dengan tanpa menghilangkan prinsip-prinsip nilai yang mendasarinya, pendidikan Islam akan mampu mengakomodasikan tuntutan hidup manusia dari jaman ke jaman termasuk tuntutan di bidang ilmu dan teknologi.
Islam yang hendak diwujudkan dalam perilaku manusia melalui proses pendidikan, bukanlah semata-mata sistem teologinya saja, melainkan lebih dari itu yaitu termasuk peradabannya yang lebih sempurna. Oleh karena itu “Islam berhadapan dengan segala bentuk kemajuan dan modernisasi masyarakat, tidaklah akan mengalami kesulitan mengingat wataknya yang lentur dalam menghadapi perkembangan kebudayaan manusia.”
Pendidikan sesungguhnya produk dari kebudayaan manusia sendiri. Rancangan suatu pendidikan dalam suatu masyarakat sepenuhnya ditentukan oleh tingkat perkembangan dan kemajuan dari kebudayaan masyarakat itu sendiri.
Melalui kualitas pendidikan maka tingkat kebudayaan suatu masyarakat akan ditentukan kualitasnya. Oleh karena itu dalam strategi pengembangan kebudayaan Islam. Pendidikan menjadi “bagian fundamental, sehingga merancang strategi kebudayaan Islam pada hakekatnya adalah merancang suatu pendidikan. Dalam hubungan ini pendidikan Islam adalah pendidikan yang bercorak tauhid.”
Pendidikan sebagai pusat pengembangan kebudayaan adalah pusat kajian kebudayaan dan ilmu-ilmu. Dalam hubungannya dengan pendidikan Islam maka yang perlu dirumuskan adalah konsep ilmu-ilmu dalam Islam. Dengan demikian kajian ilmu-ilmu dalam konsep Islam pada hakekatnya untuk menemukan dan mengembangkan hukum-hukum yang ada dalam setiap ciptaan Allah dan melalui penguasaan kebenaran hukum-hukum itulah sesungguhnya proses pembentukan suatu kebudayaan mulai digulirkan.
Oleh karena itu kebudayaan Islam haruslah mencerminkan nilai-nilai akhlakul karimah dan menjadi bagian dari ibadah sebagai wujud kerja sama kreatif antara Allah dan manusia sebagai hamba-Nya di muka bumi. “Nilai-nilai kebudayaan adalah pencapaian nilai spiritual yang memperkaya kehidupan batin manusia”. Dengan demikian, pendidikan Islam sebagai pewaris budaya harus mampu mewariskan cita-cita bangsa.
Pendidikan Islam Sebagai Interaksi Antara Potensi Dan Budaya
Dalam rangka mewujudkan kebudayaan Islam, potensi dasar manusia harus dididik sebaik mungkin. Suatu didikan yang menekankan perhatiannya pada kemaslahatan umum, akan lebih mudah mengembangkan potensi atau kemampuan dasar manusia. Pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam meluruskan dan mengembangkan potensi dasar manusia. Tanpa pendidikan potensi tidak akan mengalami perkembangan lebih sempurna.
Selanjutnya kebudayaan Islam sebagai produk dari potensi dasar tersebut haruslah berisi muatan-muatan paedagogis. Artinya, suatu kebudayaan yang dapat mengakibatkan kondisi sosio-kultural, mengarah pada bentuk pola kehidupan yang positif berdasarkan nilai dan norma ajaran Islam. Sehingga nilai-nilai Islam didalamnya dapat dipahami dan diwujudkan kebenarannya sebagai pembeda dari jenis kebudayaan lainnya.
Sesungguhnya kebudayaan itu, secara ontologis adalah nafs manusia itu sendiri. Manusia sebagai wujud dari eksistensi nafs yang kreatif yang bertindak sebagai subyek dalam proses penciptaan menjadi khalifah Allah di muka bumi. Oleh karena itu, “Kebudayaan merupakan proses pergulatan kesatuan iman dan kreatifitas dalam menghadapai tantangan realitas dengan karya dan tindakan keshalihan. Maka manusia menentukan derajatnya dalam kehidupan ini”.
Dengan demikian, kebudayaan Islam jika dilihat sebagai proses dan produk adalah :
Proses eksistensi kreatif diri manusia sebagai aktualisasi dari penyerahan diri, untuk mematuhi hukum-hukum Tuhan sehingga memperoleh keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian hidup. Sedangkan kebudayaan Islam sebagai produk adalah konsep atau gagasan, kegiatan serta benda-benda yang dibuat untuk pengabdian penyerahan diri terhadap Tuhan serta untuk tercapainya keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Potensi dasar yang telah disalurkan secara optimal dan dilapisi pesan-pesan Islam merupakan kekuatan yang potensial dalam membangun kebudayaan Islam. Jenis kebudayaan ini dapat ditumbuhkembangkan melalui bekal potensi dasar tersebut sehingga terdapat hubungan kausal yaitu, potensi dasar sebagai variabel penentu sedang kebudayaan Islam sebagai variabel yang ditentukan. Dengan potensi yang dimiliki, manusia diharapkan untuk menegakkan peradaban dan kebudayaan Islam sebagai wujud khalifah Allah di muka bumi.
Muhaimin dan Abdul Mujib dalam buku “Pemikiran Pendidikan Islam” mengutip pendapat Langeveld yang menyatakan bahwa, “Tugas pendidikan adalah mendewasakan anak melalui bimbingan dan pengarahan”. Bimbingan dan pengarahan tersebut menyangkut potensi predesposisi (kemampuan dasar) serta bakat manusia yang mengandung kemungkinan-kemungkinan berkembang ke arah kematangan yang lebih optimal.
Potensi atau kemampuan dasar yang berkembang dalam diri manusia, “kemungkinan baru dapat berkembang dengan baik bilamana diberi kesempatan yang cukup baik melalui pendidikan yang terarah.” Kemampuan potensi pada diri manusia itu, baru dapat diwujudkan dan dapat difungsikan bila disediakan kesempatan untuk berkembang dengan menghilangkan segala gangguan yang dapat menghambatnya.
Dalam rangka mengembangkan potensi yang ada pada manusia, pendidikan merupakan faktor utama. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tugas pokok pendidikan Islam adalah “pembinaan anak didik, pada ketaqwaan dan penanaman akhlakul karimah yang dijabarkan dari enam aspek keimanan, lima aspek keislaman dan multi aspek keinsanan.”
Tugas pendidikan adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan anak didik dari satu tahap ke tahap yang lain sampai meraih titik kemampuan yang optimal. Bimbingan dan pengarahan tersebut menyangkut potensi kemampuan dasar serta bakat manusia yang mengandung kemungkinan-kemungkinan berkembang ke arah kematangan yang optimal. Potensi atau kemungkinan berkembang dalam diri manusia itu baru dapat berlangsung dengan baik apabila diberi kesempatan yang cukup baik dan membantu untuk berkembang melalui pendidikan yang terarah.
Fungsi Pendidikan Islam
Dalam pendidikan islam adalah usaha untuk mengapai setiap kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan. Pendidikan islam merupakan suatu inti dari pendidikan sendiri. Karena tanpa tujuan pendidikan islam tidak akan berjalan sampai sekarang ini.
Adapun fungsi pendidikan islam menurut para ahli, fungsi pendidikan setidaknya mencakup tiga hal yang bersifat normatif:
Memberikan arah bagi proses pendidikan. Sebelum menyusul kurikulum, merencanakan kegiatan, dan melaksanakan aktifitas pendidikan. Dengan tujuan yang jelas, seluruh aktifitas pendidikan akan berjalan sesuai yang diharapkan.
Memberikan motivasi dalam aktifitas pendidikan. Karena pada dasarnya tujuan pendidikan merupakan nilai-nilai yang ingin dicapai dan diinternalisasikan pada peserta didik.
Fungsi tujuan pendidikan akan merupakan kriteria dan stadar evaluasi terhadap pelaksanaan pendidikan. Apakah proses pendidikan tersebut telah sesuai dengan yang diharpakan atau belum, ukurannya adalah dengan melihat sejauh mana proses pendidikan tersebut mencapai tujuan.
Sebuah hadis mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Mencari ilmu itu sejak dari buaian hingga masuk ke dalam lahat kubur(mati). Hal ini kemudian ditegaskan lagi oleh beberapa ahli semisal John Dewey dengan kalimatnya “Education is The process without And (pendidikan itu suatu proses tanpa akhir)”, hal ini juga diperkuat kembali oleh Persatuan Bangsa-Bangsa dengan jargonnya, “Long Life Education (pendidikan sepanjang hayat)”. Dengan demikian dapat diambil pengertian bahwa pendidikan itu bersifat dinamis dan memiliki tingkatan jenjang dari dasar hingga yang lebih tinggi, pendidikan juga bersifat adaptif sesuai dengan kebutuhan diri sendiri, maupun kebutuhan masyarakat yang lebih luas
Fungsi pendidikan islam merupakan dua hal yang berbeda. Berikut akan dipaparkan bagaimana penjelasan menurut M. Arifin :
Fungsi pendidikan ialah untuk menyediakan fasilitas yang memadai untuk mendukung kelancaran tugas pendidikan. Tentunya, untuk menyediakan fasilitas yang memadai sebagaimana yang dibutuhkan, maka dibutuhkan orang-orang yang memenuhi kebutuhan fasilitas tersebut. Kerja sama dan pengorganisasian antarpersonal tentu akan memudahkan melaksanakan tugas pendidikan, oleh karenanya secara struktural akan sangat baik bila dilakukan, hal ini juga dapat mengefektifkan peran dari masing-masing faktor pendidikan . kemudian apabila secara sturutural sudah baik, akan lebih bertambah baik pula jika ada lembaga atau institusi khusus yang mengaturnya, sehingga lebih menjamin proses pendidikan dapat berjalan secara konsisten dan berkesinambungan. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika di era dulu hingga masa kini, banyak sekali macam-macam pengaturan pendidikan islam mulai dari yang belum ada struktural dan kelembagaannya, atau belum memiliki salah satu di antaranya hingga sekarang telah berkembang menjadi banyak lembaga-lembaga pendidikan.
Secara kelembagaan, pendidikan islam merupakan sebuah wadah untuk memindahkan nilai-nilai kebudayaan Islam dari generasi ke generasi, yang mana nilai-nilai tersebut di ambil daripada nilai-nilai kemanusiaan dan adab yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, guna sebagai bekal menyambung kesinambungan kehidupan umat islam.
Fungsi Pendidikan Islam yang digagas oleh Achmadi, ialah bahwa pendidikan Islam berfungsi sebagai pemelihara dan pengembang fitrah dan sumber daya manusia menuju terbantuknya manusia seutuhnya (insan kamil) yakni manusia yang berkualitas sesuai dengan pandangan islam.
Untuk memperjelas fungsi pendidikan, dapat ditinjau dari fenomena yang muncul dalam perkembangan peradaban manusia, dengan asumsi bahwa peradaban manusia senantiasa tumbuh dan berkembang melalui pendidikan. Fenomena yang ada dapat diterlusuri lewat kajian antropologi budaya dan sosiologi, yang menunjukkan bahwa manusia dari zaman ke zaman terus berkembang maju, kemajuan itu diperoleh dari intensitas interaksi yang demikian meningkat, kemudian dari proses interaksi tersebut timbullah teknologi informasi pendukung, kemudian menjadi bertambah luaslah wawasan manusia, maka semakin banyak wawasannya ia akan semakin kreatif dalam menciptakan hal untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan demikian, pendidikan berfungsi untuk menumbuhkan secara tepat wawasan manusia, mengenai manusia itu sendiri dan alamnya, sehingga daya analisis manusia dimungkinkan mengalami pertumbuhan, sein kreatif dalam memajukan hidup kehidupan dan membangun lingkungan.
Pendidikan juga berfungsi sebagai kunci pembuka untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, hal ini diasumsikan bahwa semakin luas pengetahuan manusia tentang diri dan alamnya, maka bertambahlah rasa ingin tahunya.
Fungsi pendidikan islam dalam perspektif Al Quran dapat diperoleh dari pengkajian terhadap QS. Al Alaq ayat 1, yakni melalui pendidikan, manusia diharapkan dapat membaca realitas kehidupan, membaca fenomena alam dan memahami kejadian manusia di samping dapat membaca tulisan. Di dalam ayat lain, Q.S al Baqarah ayat 151, juga dijelaskan fungsi tugas kerasulan nabi Muhammad SAW yang secara tidak langsung hal itu menunjukkan apa saja fungsi pendidikan Islam. tugas kerasulan dan fungsi pendidikan islam ini memiliki keterkaitan yang erat karena Nabi Muhammad SAW di sisi sebagai seorang Rasul yang diwajibkan untuk menyempaikan risalah, beliau juga merupakan tokoh utama dalam Pendidikan Islam, beliau saw menghabiskan seumur hidupnya untuk mengabdi kepada Allah SWT dengan cara mengajar umatnya dan juga makhluk yang lain, mengingat beliau saw juga diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.
Disebutkan dalam QS. Al Baqoroh ayat 151 sebagai berikut :
كَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِيكُمۡ رَسُولٗا مِّنكُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمۡ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ ١٥١
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
Dari ayat ini dap dipetik 5 tugas kerasulan yang diemban oleh Rasululah saw sebagai seorang pendidik, yakni :menyucika diri, mengajarkan kitab, mengajarkan hikmah dan mengajarkan ilmu pengetahuan. Muhamamd Abduh di dalam tafsir al Manna menjelaskan ayat ini sebagai berikut :
Pertama, membaca ayat-ayat Allah. yang dimaksud kan oleh Muhammad Abduh di dalamkalimat ini yakni pemahaman terhadap aya-ayat kauniyah atau yang tidak tertulis di dalam Quran, seperti alam semesta dan manusia itu sendiri. Dari sini manusia diharapkan mampu memperluas wawasannya melalui kemampuan membaca ayat-ayat Allah, sehingga kemudian manusia itu dapat sampai pada kesadaran akan wujudnya Allah(memahami bahwa Allah SWT itu ada)
Kedua, ia memanai menyucikan diri sebagai implementasi dari pemahaman akan ayat-ayat Allah sebagaimana yang telah dijelaskan. Ia dapat memahami hukum-hukum Allah yang ada di Quran atau ayat-ayat kauniyahNya, sehingga ia dapat menjaga fitrah kemanusiaan dengan menjauhkan diri dari menyekutukan Allah berperilaku dengan akhlak madzmumah.
Ketiga, Mengajarkan kitab dan hikmah. Muhammad abduh memaknai hal ini dengan menjelaskan bahwa Quran sebenarnya merupakan pedoman hidup yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, Alam maupun manusia itu sendiri. Ia berpendapat bahwa Quran masih bersifat mujmal(garis besar) sehingga memerlukan hikmah- hikmah untuk memperjelas maksud dari ayat-ayat Quran. Hikmah yang dimaksud tersebut adalah hadis-hadis.namun menurut Achmadi, bila mana yang dimaksud dari hikmah tersebut diartikan lebih luas, maka dapat dipahami sebagai kebijaksanaan hidup yang berlandaskan nilai-nilai yang berasal dari Allah dan Rasulullah SAW.
Kemudian dalam memkanai potongan ayat terakhir, Achmadi seakan memberikan pemahaman bahwa ada ilmu-ilmu yang belum diajarkan kepada manusia, terutama sebelum nabi Muhammad SAW, yakni ilmu tentang adab-adab, ia kemudian mengaitkan alasannya dengan menggunakan hadis bahwa tugas utama misi diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah dengan menyempurnakan akhlak menjadi lebih baik, sehingga manusia nantinya akan mengambil ilmu-ilmu dan nilai-nilai moral Nabi Muhammad SAW.
Achmadi juga seakan menegaskan bahwa Rasulullah SAW memberikan antisipasi kepada umatnya dengan mengaitkan hadis “carilah ilmu walaupun sampai ke negeri china”, hadis ini ia pahami sebagai cara nabi memotivasi manusia untuk mencari wawasan ilmu keduniaan kepada siapapun dan di manapun. Maka dari sini, pendidikan dapat dimaknai sebagai daya dobrak untuk memperdalam dan menguasai keilmuan-keilmuan yang belum terjamah atau belum dikembangkan oleh manusia.
penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa antara tugas dan fungsi pendidikan Islam, keduanya saling berkaitan. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsi pendidikan Islam itu sendiri. Jika pendidikan Islam dapat melaksanakan tugasnya dengan berdasarkan nilai-nilai dan norma ajaran Islam maka pendidikan Islam akan mampu mewujudkan tercapainya kehidupan yang harmonis, seimbang antara duniawiyah dan ukhrowiyah. Dengan demikian jelaslah bahwa manusia dalam hidup dan kehidupannya membutuhkan adanya pendidikan
Tujuan Pendidikan Islam
Kalau melihat tujuan pendidikan islam adalah menanamkan takwa dan kahlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut islam.
Seperti apa yang dikatakan muhammad fadhil al-jamali, tujuan pendidikan islam ada empat macam:
Mengenalkan manusia akan perannya di antara makhluk dan tanggung jawab dalam hidup ini.
Mengenal manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat.
Mengenal manusia akan alam dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptakannya serta memberi kemungkinan kepada mereka untuk mengembil manfaat darinya
Mengenalkan manusia akan pencipta alam dan menyuruh beribadah kepada-nya.
Sedangkan tujuan pendidikan islam melihat dari perspektif al-quran oleh muhammad fadil al-jamali ada beberapa poin:
Mengenal manusia akan perannya di antara makhluk dan tanggung jawab pribadi dalam hidup ini.
Mengenal manusia dan hubungannya dengan lingkungan sosialnya dan tanggung jawabnya dalam atta hidup bermasyrakat.
Mengenalkan manusia dengan alam ini dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptanya serta memberikan kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaatnya.
Mengenalkan manusia dengan pencipta alam (Allah) dan memerintahkan beribadah kepada-Nya.
Jika kita simpulkan, mengambil dari kutipan, tujuan pendidikan muslim adalah untuk menciptakan manusia yang baik dan benar. Pendidikan islam merupakan solusi atau syarat kepada umat islam seluruh dunia. Untuk itu, pendidikan memnag pintu untuk menjadi lebihj baik lagi.
BAB III
Kesimpulan
Dasar Pemikiran Pendidikan Islam
Berasal dari sumber yang sama yaitu al Quran dan hadits. Kemudian dasar tadi dikembangkan dalam pemahaman para ulama dalam bentuk qiyas Syari, ijma yang diakui, ijtihad
Hakikat Pendidikan
Kami selaku penulis menyimpulkan dari karya Arifin dalam buku Ilmu Pendidikan Islam dan dari karya Tadjab dalam buku Dasar Dasar Kependidikan Islam bahwa Hakikat Pendidikan Islam adalah usaha yang dilakukan oleh muslim dewsa dan bertaqwa untuk membimbing anak didiknya dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak didiknya dari kemampuan dasar yang ia miliki sampai ke arah titik yang maksimal agar manusia itu mampu hidup dan berkehidupan serta melaksanakam tugas sebagai hamba Alloh dan kholifah Allah di muka bumi.
Tugas Pendidikan Islam
Tugas pendidikan adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan anak didik dari satu tahap ke tahap yang lain sampai meraih titik kemampuan yang optimal. Bimbingan dan pengarahan tersebut menyangkut potensi kemampuan dasar serta bakat manusia yang mengandung kemungkinan-kemungkinan berkembang ke arah kematangan yang optimal.
Fungsi Pendidikan Islam
Menurut M. Arifin adalah untuk menyediakan fasilitas yang memadai untuk mendukung kelancaran tugas pendidikan.
Fungsi Pendidikan Islam yang digagas oleh Achmadi, ialah bahwa pendidikan Islam berfungsi sebagai pemelihara dan pengembang fitrah dan sumber daya manusia menuju terbantuknya manusia seutuhnya (insan kamil) yakni manusia yang berkualitas sesuai dengan pandangan islam.
Tujuan Pendidikan Islam
Jika kita simpulkan, mengambil dari kutipan fadil al-jamali tujuan pendidikan muslim adalah untuk menciptakan manusia yang baik dan benar
Saran
Sebagai generasi penerus masa depan, maka seyogyanyalah kita terus berusaha untuk memajukan perdaban Islam melalui pendidikan, dan alangkah lebih baik pendidikan dipadukan pendidkan yang sesuai dengan syariat Islam guna untuk terus menjaga dan menjalankan amanah yang Allah berikan
Daftar Pustaka
Abuddin Nata. 2016. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Prenadamedia Group.
Achmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Al Syaibani, umar Muhammad al toumy. 1996. al usus al nafsiyyat wa al tarbiyaty li ri’ayat .
Mesir : khairat, dar al ma’rif.
Asy’arie , Musa. 1999. Filsafat Islam Tentang Kebudayaan. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat
Islam
Daradjat , Zakiyah. 1996. Ilmu Pendidikan Islam . Jakarta: Bumi Aksara
Jalaluddin. 1994. Filsafat pendidikan Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Jalaluddin. 2016. Ilmu Pendidikan Islam. jakarta: PT Rajagrafindop persada
Muhaimin dan Abdul Muji. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis Dan Kerangka
Operasionalisasinya Bandung. Trigenda Karya
Salik, Mohammad. 2014. Ilmu Pendidikan Islam. Surabaya: Uin Sunan Ampel Press.
Zuhairini. 1995. . Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara,
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Seorang manusia adalah makhluq terbaik, teristimewa yang diciptakan Alloh daripada Makhluk yang lain. Manusia oleh Alloh di amanahi untuk menjadi Kholifah di muka bumi, disamping manusia menjadi hamba. Namun keberadaan manusia yang menjadi khlifah ini, ini mampu merusak dan mampu meningkatkan kualitas yang telah Alloh berikan daripada makhluq lain, Karena itu manusia diberi akal dan nafsu, dengan akalnya ia mampu mengemban amanah dari Alloh untuk senantiasa meningkatkan kualitas bumi, merawat, dan menjaganya. Namun dengan nafsu yang tak bisa dikendalikannya manusia mampu menjadi hamba yang jauh lebih buruk dari setak, ia mampu merusak bumi ini dalam kejapan mata.
Oleh karena itu untuk mengontrol hal hal yang tidak diinginkan manusia dibekali akal untuk mampu mengaktulisasikan kelebihan yang ada padanya. Dengan Pendidikanlah manusia mampu melakukan itu, apalagi ketika pendidikan itu berpadu dengan ajaran syariat Islam. Maka akan tercipta lah tujuan Alloh menciptakan manusia, karena mereka telah menjalankan pendidikan sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu hal yang mendasar yang perlu kita ketahui adalah dasar dasarnya, salh satunya yaitu hal yang mendasar seputar pendidikan Islam seperti dasar, hakikat, tugas, fungsi dan tujuan pendidikan Islam.
Rumusan Masalah
Dasar yang dipakai di dalam Pendidikan Islam
Hakikat dalam Pendidikan Islam
Tugas tugas yang ada dalam Pendidikan Islam
Fungsi / kegunaan adanya Pendidikan Islam
Tujuan adanya Pendidikan Islam
Tujuan Masalah
Agar kita bisa memahami dasarnya atau yang menjadi pedoman Pendidikan Islam gunanya untuk memperkuat dan memantapkan pengetahuan kita sebelum memasuki tahap pengetahuan tentang Pendidikan Islam selanjutnya
Untuk memberitahukan kepada pembaca tentang adanya hakikat pendidikan
Menginformasikan kepada pembaca ada banyak tugas dalam Pendidikan Islam
Agar pembaca memahami akan Fungsi Pendidikan Islam
Untuk mudahkan pembaca dalam mengetahui sebenarnya tujuan dalam adanya Pendidikan Islam
BAB II
PEMBAHASAN
Dasar Pendidikan Islam
Dasar pendidikan Islam adalah indentik dengan dasar Islam itu sendiri. Berasal dari sumber yang sama yaitu al Quran dan hadits. Kemudian dasar tadi dikembangkan dalam pemahaman para ulama dalam bentuk qiyas Syari, ijma yang diakui, ijtihad dan tafsir yang benar dalam bentuk hasil pemikiran yang menyeluruh dan terpadu tentang jagat raya, manusia ,masyarakat dan bangsa, pengetahuan kemanusiaan dan akhlaq, dengan sumber utama
Dijadikannya Alquran dan Hadits sebagai dasar pemikiran dalam membina sistem pendidikan itu bukan karena kenyakinan semata, tapi kebenaran yang ada dalam keduanya karena diterima oleh nalar dan telah dibuktikan dengan sejarah yang telah terjadi dimasa lampau. Maka dari itu wajar jika kebenaran itu kita kembalikan pada pembuktian akan kebenaran pernyataan Alloh yang artinya “ tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.
Kebenaran yang dikemukan Nya mengandung kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran yang spekulatif , dan juga tidak bersifat tentative (sementara). Berbeda dengan kebenaran yang dibuat hasil pemikiran manusia. Kebenaran produk nalar manusia, bagaimanapun terbatas oleh ruang dan waktu., dan bersifat tentative (sementara). Berbeda dengan kebenaran yang dibuat hasil pemikiran manusia. Kebenaran produk nalar manusia, bagaimanapun terbatas oleh ruang dan waktu. Selain itu hasil nya bersifat subjektifitas (sesuai sudut pandangnya masing masing) adanya kedua factor ini mendorong hasil pemikiran para ahli pendidikan untuk membuahkan konsep pendidikan yang sesuai dengan pandangan hidup masing-masing.
Hakikat Pendidikan Islam
Manusia adalah Makhluq Allah dan manusia juga bagian yang tidak terpisahkan dari alam semesta ini,namun manusia adalah makhluq yang paling istimewa dan telah diistimewakan oleh Nya. Dalam surat Al Isro ayat 70 Allah menganugrahkan dan memuliakan manusia dengan berbagai kelebihan dibandingkan makhluq lainnya . diciptakan dalam struktur yang sebaik baiknya QS: Attin ayat 4, dan dalam Surat Al Baqaroh ayat 30 Alloh telah berfirman bahwa manusia itu di beri amanah oleh Alloh sebagai Kholifah di muka Bumi.
Dengan statusnya sebagai makhluk bumi (alam), manusia memiliki kesamaan dengan makhluk lainnya secara alamiyah, adalah muslim, terikat, tunduk dan patuh pada hukum hukum alam, tetapi sebagai makhluq tertinggi yang sekaligus sebagai kholifah di Bumi, manusia dianugrahi dengan kesadaran dan kemampuan potensial untuk mengatasi alam.
Manusia memiliki akal yang jika digunakan secara tepat dan benar, maka akan mampu melaksanakan tugas kepemimpinan di muka bumi dengan baik. Dengan akalnya tersebut manusia mampu memahami dan mengetahui rahasia-rahasia dan hukum hukum yang berlaku di alam ini, yang dengan ini manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang dan sosialisasinya. Dengan akal dan ilmu pengetahuannya, manusia mampu merekayasa dan memanfaatkan hukum hukum dan kekayaan alam ini untuk kepentingan dan memenuhi kebutuhan manusia , yang dengan ini manusia mampu mengembangkan tegnologi yang semakin canggih dalam mengolah dan mengelola alam ini,. Tegnologi bisa menjaga kelestarian lingkungan, namun dengan tegnologi pula akan terjadi pengerusakan pengerusakan terhadap lingkungan alam .
Untuk membimbing, mengajari dan melatih manusia agar mampu melaksanakan tugas-tugas hidup dengan baik dan bertanggung jawab, maka Allah sebagai pemilik alam, telah mengutus Rasul-RasulNya sepanjang sejarah. Alloh mengutus mereka dengan tujuan untuk menyampaikan ajaran dan petunjuk serta jalan hidup yang Islami. Inilah konsep dasar pendidikan Islam itu. Rasul Rasul diutus tidak hanya menyampaikan ajaran saja tetapi juga untuk membimbing pertumbuhan dan perkembangan akal dan budinya manusia dalam mewujudkan kehidupan sosial budaya dan peradabadan Islami. Rangkaian Kisah kisah dalam Alquran seputar Nabi, menunjukkan bahwa Allah telah mempersiapkan dengan membimbing, mengajari dam ,melatihmya agar manusia mampu melaksanakan tugas tugas kekholifahan di muka bumi dengan sebaik-baiknya.
Nabi Adam sebagai Rasul pertama, telah dipersiapkan Allah untuk meletakkan dasar dasar tonggak awal budaya dan peradaban umat manusia di bumi (QS : Al Baqoroh ayat 30-38 ). Kemudian melalui proses pewarisan dari generasi ke generasi, sistem kehidupan sosial budaya dan peradaban manusia mengalami proses tumbuh kembang. Apabila proses pertumbuhan dan perkembangan mengalami kemacetan atau menyimpang dari tujuan semula sebagai Khalifah , atau manusia menghadapi situasi kritis di mana akal pikirannya tidak mampu memecahkan persoalannya, maka Allah mengutus Rasul untuk mendinamiskan, meluruskan dan memecahkan permasalahan kehidupan sosial budaya dan peradaban umat manusia tersebut.
Nabi Nuh Misalnya disamping tugasnya menyampaikan ajaran ajaran Islam kepada umatnya, ia juga telah menyelamatkan dan memacu perkembangan kehidupan sosial budaya dan peradaban umat manusia. Dengan bimbingan Allah nabi Nuh mampu membuat perahu guna menyelamatkan umatnya (QS : Hud : 37-38). Ternyata dengan perahu tersebut kemudian dikembangkan oleh manusia menjadi alat trransportasi yang sangat penting peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya dan peradaban manusia di muka bumi ini. Begitu juga dengan nabi Ibarahim dengan karya besarnya membangun kabah yang pertama, di Makka (QS : Al Baqarah : 125-126 ; Ali Imron : 96 ), dari karya tersebut kemudian berkembang tradisi bermukim pada suatu daerah, membentuk perkampungan dan perkotaan dengan bangunan perusahaannya, dari itu pula berkembang suatu masyarakat perkotaan dengan ciri-ciri budayanya yang berbeda dengan masyarakat.
Rasul Rasul berikutnya juga ikut berpartisipasi dalam budaya dan perkembangan manusia seperti, nabi Yusuf telah berjasa dalam meletakkan dasar dasar perekonomian dan perbendaharaan serta adminitrasi negara ( QS : Yusuf : 55-56 ). Nabi Daud telah menciptakan peralatan dari besi yang merupakan cikal bakal perkembangan tegnologi manusia ( QS : Saba : 10 ; An Anbiya : 80 ). Kemudian nabi Isa memperkenalkan sistem pengobatan (QS :Al Maidah : 3 ). Dengan telah diutusnya nabi Muhammad sebagai rasul terakhir, memberikan petunjuk bahwa pendidikan Islam telah mencapai kesempurnaan tingkat kedewasaannya. Dan konsekuensinya, tanggung jawab pendidikan Islam sekarang dilimpahkan oleh Allah ke tangan manusia sendiri, sebagai kholifah Nya.
Dalam hal ini, pendidikan Islam tersebut menjadi bagian integral dari tugas kekholifahan manusia di muka bumi. Alquran sebagai pedoman dasar bagi pelaksanaan pendidikan Islam dan As Sunnah sebagai sumber operasional dari pelaksanaan ajaran dan pedoman operasional bagi penyelenggara tugas kependidikan Islam. Sebagai mana yang dipesankan nabi Muhammad bahwa aku tinggalkan padamu dua perkara yang jika kamu berpegang teguh pada keduanya kamu tidak akan tersesat selamanya, yaitu Al Quran dan As Sunnah.
Al-Qur'an dan Sunnah Rasul merupakan sumber ajaran Islam, maka pendidikan Islam pada hakekatnya tidak boleh lepas dari kedua sumber tersebut. Dalam kedua sumber tersebut pendidikan lebih dikenal dengan istilah-istilah yang pengertiannya terkait dengan pendidikan, yaitu at-Tarbiyah.
Pendidikan atau at-tarbiyah menurut pandangan Islam adalah bagian dari tugas manusia sebagai Khalifah Allah di bumi. Allah adalah Rabb al-’Alamin juga Rabb al-Nas. Tuhan adalah “yang mendidik makhluk alamiah dan juga yang mendidik manusia.” Sebagai khalifah Allah, manusia mendapat kuasa dan limpahan wewenang dari Allah untuk melaksanakan pendidikan terhadap alam seisinya dan manusia, oleh karenanya dalam konteks masalah ini manusialah yang bertanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan tersebut.
Pendidikan secara teoritis mengandung pengertian memberi makan kepada jiwa seseorang sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah. Pendidikan bila ingin diarahkan kepada pertumbuhan yang sesuai dengan ajaran Islam, maka harus berproses melalui formal maupun melalui non formal yang berpedoman pada syari’at Islam.
Syariat Islam “tidak akan dihayati dan diamalkan orang kalau diajarkan saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan.” Dari satu segi, kita melihat bahwa pendidikan Islam itu banyak ditujukan kepada kebaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain. Di sisi lain, pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoritis saja tapi juga praktis. Ajaran Islam juga tidak memisahkan antara iman dan amal sholeh.
Esensi pendidikan Islam yang dilandasi oleh filsafat pendidikan Islam yang benar dan yang mengarahkan pada proses pendidikan Islam, M. Fadil Al-Djamali, Guru Besar Universitas Tunisia, mengungkapkan cita-citanya bahwa pendidikan yang harus dilaksanakan umat Islam adalah “pendidikan keberagamaan yang berlandaskan keimanan yang berdiri di atas filsafat pendidikan yang bersifat menyeluruh yang berlandaskan iman pula.”
Jadi, jelaslah bahwa proses pendidikan merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan di dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual dan sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar di mana ia hidup. Proses tersebut harus senantiasa berada di dalam nilai-nilai Islami, yaitu nilai-nilai yang melahirkan norma-norma syari’ah yang sesuai dengan pendidikan Islam.
Dan kesimpulan yang bisa diambil bahwa Pendidikan Islam itu hakikatnya adalah bimbingan dari Al Quran agar manusia mampu hidup dan berkehidupan serta melaksanakan tugas kekholifahan di muka bumi.
Disamping itu dalam karya Arifin Hakikat Pendidikan Islam adalah seorang muslim dewasa dan bertaqwa yang berusaha untuk mengarahkan dan membimbing dalam pertumbuhan serta perkembangan kemampuan dasar sampai kearah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangan anak didik melalui ajaran Islam
Dari kedua pendapat diatas dan uraian penjelas diatas penulis bisa mengambil kesimpulan Hakikat Pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan oleh muslim dewsa dan bertaqwa untuk membimbing anak didiknya dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak didiknya dari kemampuan dasar yang ia miliki sampai ke arah titik yang maksimal agar manusia itu mampu hidup dan berkehidupan serta melaksanakam tugas sebagai hamba Alloh dan kholifah Allah di muka bumi.
Tugas Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah pendidikan tanpa batas waktu dan akan berjalan dinamis sesuai dengan keuniversalan Islam itu sendiri. Sehingga dalam tugasnya pendidikan Islam adalah harus berjalan sesuai dengan kebutuhan manusia secara luas dari berbagai aspek kehidupan. Menurut Muhaimin dan Abdul Mujib dalam bukunya "Pemikiran Pendidikan Islam" menyatakan bahwa, “tugas dari pendidikan Islam meliputi tiga unsur, yaitu sebagai pengembang potensi, pewarisan budaya dan sebagai interaksi antara potensi dan budaya”. Untuk lebih jelasnya akan penulis uraikan satu demi satu.
Pendidikan Islam Sebagai Pengembang Potensi
Allah SWT telah menciptakan manusia di dunia, untuk bertugas pokok menyembah Khaliknya juga bertugas mengelola dan memanfaatkan kekayaan yang terdapat di bumi agar manusia dapat hidup sejahtera dan makmur lahir batin.
Manusia diciptakan Allah selain menjadi hamba-Nya juga menjadi penguasa (khalifah) di atas bumi. Selaku hamba dan khalifah, manusia telah diberi kelengkapan kemampuan jasmani (fisiologis) dan rohaniah (mental psikologis) yang dapat dikembang tumbuhkan seoptimal mungkin, sehingga menjadi alat yang berdaya guna dalam ikhtiar kemanusiaannya untuk melaksanakan tugas pokok kehidupan di dunia.
Untuk mengembangtumbuhkan kemampuan dasar jasmaniah dan rohaniah tersebut, pendidikan merupakan sarana (alat) yang menentukan sampai di mana titik optimal kemampuan-kemampuan tersebut dapat dicapai. Pendidikan adalah proses untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang dimiliki manusia, dalam arti untuk menampakkan atau mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki manusia.
Pendidikan Islam telah memberikan resep kehidupan yang menyeluruh untuk digunakan sebagai landasan hidup manusia dalam segala jaman dan dalam segenap bidang kehidupan manusia. Resep demikian tidak akan berguna bila mana manusia itu sendiri sebagai konsumernya tidak dibekali kemampuan untuk mengaktualisasikannya melalui proses pendidikan yang sesuai dengan ajaran agama yang telah diperintahkan Allah kepada hamba-Nya.
Oleh karena itu akhir dari tujuan pendidikan Islam berada di garis yang sama dengan misi tersebut yaitu membentuk kemampuan dan bakat manusia agar mampu menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan yang penuh rahmat dan berkat Allah di seluruh penjuru alam. Hal ini berarti bahwa potensi yang dimiliki manusia akan dapat diapresiasikan melalui ikhtiarnya yang bersifat kependidikan secara terarah dan tepat.
Selain pendidikan, dalam rangka mengembangkan potensi atau kemampuan dasar, manusia juga membutuhkan adanya bantuan dari orang lain untuk membimbing, mendorong dan mengarahkan agar berbagai potensi tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan optimal, sehingga kelak hidupnya dapat berdaya guna dan berhasil guna. Dengan demikian manusia akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya.
Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa pendidikan itu berusaha untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki manusia, baik jasmaniah maupun rohaniah, sehingga dengan pendidikan akan tercapai kehidupan yang harmonis, seimbang antara kebutuhan fisik material dengan kebutuhan mental spiritual dan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Pendidikan Islam sebagai Internalisasi Nila-nilai Islamiah
Tugas pendidikan Islam selanjutnya adalah mewariskan nilai-nilai Islam. Hal ini dikarenakan nilai-nilai Islam akan mati bila nilai-nilai dan norma-norma agama tidak berfungsi dan belum sempat diwariskan ke generasi berikutnya.
Nilai-nilai Islam dan peradaban tidak dapat dipisahkan dengan kelahiran Islam itu sendiri. Maka dari itu lembaga-lembaga pendidikan memiliki tugas selain mengembangkan perolehan pengalaman, lembaga pendidikan harus mampu mengupayakan perolehan pengalaman generasi terdahulu melalui transfer tradisi. Islam mengemban tugas menghidupkan kembali tradisi, konsep keagamaan dan mewariskan ilmu-ilmu yang diperoleh dari kitab-kitab lama ke generasi selanjutnya.
Pendidikan Islam sebagai alat internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam masyarakat, memiliki watak lentur terhadap perkembangan aspirasi kehidupan manusia sepanjang jaman. Dengan tanpa menghilangkan prinsip-prinsip nilai yang mendasarinya, pendidikan Islam akan mampu mengakomodasikan tuntutan hidup manusia dari jaman ke jaman termasuk tuntutan di bidang ilmu dan teknologi.
Islam yang hendak diwujudkan dalam perilaku manusia melalui proses pendidikan, bukanlah semata-mata sistem teologinya saja, melainkan lebih dari itu yaitu termasuk peradabannya yang lebih sempurna. Oleh karena itu “Islam berhadapan dengan segala bentuk kemajuan dan modernisasi masyarakat, tidaklah akan mengalami kesulitan mengingat wataknya yang lentur dalam menghadapi perkembangan kebudayaan manusia.”
Pendidikan sesungguhnya produk dari kebudayaan manusia sendiri. Rancangan suatu pendidikan dalam suatu masyarakat sepenuhnya ditentukan oleh tingkat perkembangan dan kemajuan dari kebudayaan masyarakat itu sendiri.
Melalui kualitas pendidikan maka tingkat kebudayaan suatu masyarakat akan ditentukan kualitasnya. Oleh karena itu dalam strategi pengembangan kebudayaan Islam. Pendidikan menjadi “bagian fundamental, sehingga merancang strategi kebudayaan Islam pada hakekatnya adalah merancang suatu pendidikan. Dalam hubungan ini pendidikan Islam adalah pendidikan yang bercorak tauhid.”
Pendidikan sebagai pusat pengembangan kebudayaan adalah pusat kajian kebudayaan dan ilmu-ilmu. Dalam hubungannya dengan pendidikan Islam maka yang perlu dirumuskan adalah konsep ilmu-ilmu dalam Islam. Dengan demikian kajian ilmu-ilmu dalam konsep Islam pada hakekatnya untuk menemukan dan mengembangkan hukum-hukum yang ada dalam setiap ciptaan Allah dan melalui penguasaan kebenaran hukum-hukum itulah sesungguhnya proses pembentukan suatu kebudayaan mulai digulirkan.
Oleh karena itu kebudayaan Islam haruslah mencerminkan nilai-nilai akhlakul karimah dan menjadi bagian dari ibadah sebagai wujud kerja sama kreatif antara Allah dan manusia sebagai hamba-Nya di muka bumi. “Nilai-nilai kebudayaan adalah pencapaian nilai spiritual yang memperkaya kehidupan batin manusia”. Dengan demikian, pendidikan Islam sebagai pewaris budaya harus mampu mewariskan cita-cita bangsa.
Pendidikan Islam Sebagai Interaksi Antara Potensi Dan Budaya
Dalam rangka mewujudkan kebudayaan Islam, potensi dasar manusia harus dididik sebaik mungkin. Suatu didikan yang menekankan perhatiannya pada kemaslahatan umum, akan lebih mudah mengembangkan potensi atau kemampuan dasar manusia. Pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam meluruskan dan mengembangkan potensi dasar manusia. Tanpa pendidikan potensi tidak akan mengalami perkembangan lebih sempurna.
Selanjutnya kebudayaan Islam sebagai produk dari potensi dasar tersebut haruslah berisi muatan-muatan paedagogis. Artinya, suatu kebudayaan yang dapat mengakibatkan kondisi sosio-kultural, mengarah pada bentuk pola kehidupan yang positif berdasarkan nilai dan norma ajaran Islam. Sehingga nilai-nilai Islam didalamnya dapat dipahami dan diwujudkan kebenarannya sebagai pembeda dari jenis kebudayaan lainnya.
Sesungguhnya kebudayaan itu, secara ontologis adalah nafs manusia itu sendiri. Manusia sebagai wujud dari eksistensi nafs yang kreatif yang bertindak sebagai subyek dalam proses penciptaan menjadi khalifah Allah di muka bumi. Oleh karena itu, “Kebudayaan merupakan proses pergulatan kesatuan iman dan kreatifitas dalam menghadapai tantangan realitas dengan karya dan tindakan keshalihan. Maka manusia menentukan derajatnya dalam kehidupan ini”.
Dengan demikian, kebudayaan Islam jika dilihat sebagai proses dan produk adalah :
Proses eksistensi kreatif diri manusia sebagai aktualisasi dari penyerahan diri, untuk mematuhi hukum-hukum Tuhan sehingga memperoleh keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian hidup. Sedangkan kebudayaan Islam sebagai produk adalah konsep atau gagasan, kegiatan serta benda-benda yang dibuat untuk pengabdian penyerahan diri terhadap Tuhan serta untuk tercapainya keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Potensi dasar yang telah disalurkan secara optimal dan dilapisi pesan-pesan Islam merupakan kekuatan yang potensial dalam membangun kebudayaan Islam. Jenis kebudayaan ini dapat ditumbuhkembangkan melalui bekal potensi dasar tersebut sehingga terdapat hubungan kausal yaitu, potensi dasar sebagai variabel penentu sedang kebudayaan Islam sebagai variabel yang ditentukan. Dengan potensi yang dimiliki, manusia diharapkan untuk menegakkan peradaban dan kebudayaan Islam sebagai wujud khalifah Allah di muka bumi.
Muhaimin dan Abdul Mujib dalam buku “Pemikiran Pendidikan Islam” mengutip pendapat Langeveld yang menyatakan bahwa, “Tugas pendidikan adalah mendewasakan anak melalui bimbingan dan pengarahan”. Bimbingan dan pengarahan tersebut menyangkut potensi predesposisi (kemampuan dasar) serta bakat manusia yang mengandung kemungkinan-kemungkinan berkembang ke arah kematangan yang lebih optimal.
Potensi atau kemampuan dasar yang berkembang dalam diri manusia, “kemungkinan baru dapat berkembang dengan baik bilamana diberi kesempatan yang cukup baik melalui pendidikan yang terarah.” Kemampuan potensi pada diri manusia itu, baru dapat diwujudkan dan dapat difungsikan bila disediakan kesempatan untuk berkembang dengan menghilangkan segala gangguan yang dapat menghambatnya.
Dalam rangka mengembangkan potensi yang ada pada manusia, pendidikan merupakan faktor utama. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tugas pokok pendidikan Islam adalah “pembinaan anak didik, pada ketaqwaan dan penanaman akhlakul karimah yang dijabarkan dari enam aspek keimanan, lima aspek keislaman dan multi aspek keinsanan.”
Tugas pendidikan adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan anak didik dari satu tahap ke tahap yang lain sampai meraih titik kemampuan yang optimal. Bimbingan dan pengarahan tersebut menyangkut potensi kemampuan dasar serta bakat manusia yang mengandung kemungkinan-kemungkinan berkembang ke arah kematangan yang optimal. Potensi atau kemungkinan berkembang dalam diri manusia itu baru dapat berlangsung dengan baik apabila diberi kesempatan yang cukup baik dan membantu untuk berkembang melalui pendidikan yang terarah.
Fungsi Pendidikan Islam
Dalam pendidikan islam adalah usaha untuk mengapai setiap kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan. Pendidikan islam merupakan suatu inti dari pendidikan sendiri. Karena tanpa tujuan pendidikan islam tidak akan berjalan sampai sekarang ini.
Adapun fungsi pendidikan islam menurut para ahli, fungsi pendidikan setidaknya mencakup tiga hal yang bersifat normatif:
Memberikan arah bagi proses pendidikan. Sebelum menyusul kurikulum, merencanakan kegiatan, dan melaksanakan aktifitas pendidikan. Dengan tujuan yang jelas, seluruh aktifitas pendidikan akan berjalan sesuai yang diharapkan.
Memberikan motivasi dalam aktifitas pendidikan. Karena pada dasarnya tujuan pendidikan merupakan nilai-nilai yang ingin dicapai dan diinternalisasikan pada peserta didik.
Fungsi tujuan pendidikan akan merupakan kriteria dan stadar evaluasi terhadap pelaksanaan pendidikan. Apakah proses pendidikan tersebut telah sesuai dengan yang diharpakan atau belum, ukurannya adalah dengan melihat sejauh mana proses pendidikan tersebut mencapai tujuan.
Sebuah hadis mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Mencari ilmu itu sejak dari buaian hingga masuk ke dalam lahat kubur(mati). Hal ini kemudian ditegaskan lagi oleh beberapa ahli semisal John Dewey dengan kalimatnya “Education is The process without And (pendidikan itu suatu proses tanpa akhir)”, hal ini juga diperkuat kembali oleh Persatuan Bangsa-Bangsa dengan jargonnya, “Long Life Education (pendidikan sepanjang hayat)”. Dengan demikian dapat diambil pengertian bahwa pendidikan itu bersifat dinamis dan memiliki tingkatan jenjang dari dasar hingga yang lebih tinggi, pendidikan juga bersifat adaptif sesuai dengan kebutuhan diri sendiri, maupun kebutuhan masyarakat yang lebih luas
Fungsi pendidikan islam merupakan dua hal yang berbeda. Berikut akan dipaparkan bagaimana penjelasan menurut M. Arifin :
Fungsi pendidikan ialah untuk menyediakan fasilitas yang memadai untuk mendukung kelancaran tugas pendidikan. Tentunya, untuk menyediakan fasilitas yang memadai sebagaimana yang dibutuhkan, maka dibutuhkan orang-orang yang memenuhi kebutuhan fasilitas tersebut. Kerja sama dan pengorganisasian antarpersonal tentu akan memudahkan melaksanakan tugas pendidikan, oleh karenanya secara struktural akan sangat baik bila dilakukan, hal ini juga dapat mengefektifkan peran dari masing-masing faktor pendidikan . kemudian apabila secara sturutural sudah baik, akan lebih bertambah baik pula jika ada lembaga atau institusi khusus yang mengaturnya, sehingga lebih menjamin proses pendidikan dapat berjalan secara konsisten dan berkesinambungan. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika di era dulu hingga masa kini, banyak sekali macam-macam pengaturan pendidikan islam mulai dari yang belum ada struktural dan kelembagaannya, atau belum memiliki salah satu di antaranya hingga sekarang telah berkembang menjadi banyak lembaga-lembaga pendidikan.
Secara kelembagaan, pendidikan islam merupakan sebuah wadah untuk memindahkan nilai-nilai kebudayaan Islam dari generasi ke generasi, yang mana nilai-nilai tersebut di ambil daripada nilai-nilai kemanusiaan dan adab yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, guna sebagai bekal menyambung kesinambungan kehidupan umat islam.
Fungsi Pendidikan Islam yang digagas oleh Achmadi, ialah bahwa pendidikan Islam berfungsi sebagai pemelihara dan pengembang fitrah dan sumber daya manusia menuju terbantuknya manusia seutuhnya (insan kamil) yakni manusia yang berkualitas sesuai dengan pandangan islam.
Untuk memperjelas fungsi pendidikan, dapat ditinjau dari fenomena yang muncul dalam perkembangan peradaban manusia, dengan asumsi bahwa peradaban manusia senantiasa tumbuh dan berkembang melalui pendidikan. Fenomena yang ada dapat diterlusuri lewat kajian antropologi budaya dan sosiologi, yang menunjukkan bahwa manusia dari zaman ke zaman terus berkembang maju, kemajuan itu diperoleh dari intensitas interaksi yang demikian meningkat, kemudian dari proses interaksi tersebut timbullah teknologi informasi pendukung, kemudian menjadi bertambah luaslah wawasan manusia, maka semakin banyak wawasannya ia akan semakin kreatif dalam menciptakan hal untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan demikian, pendidikan berfungsi untuk menumbuhkan secara tepat wawasan manusia, mengenai manusia itu sendiri dan alamnya, sehingga daya analisis manusia dimungkinkan mengalami pertumbuhan, sein kreatif dalam memajukan hidup kehidupan dan membangun lingkungan.
Pendidikan juga berfungsi sebagai kunci pembuka untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, hal ini diasumsikan bahwa semakin luas pengetahuan manusia tentang diri dan alamnya, maka bertambahlah rasa ingin tahunya.
Fungsi pendidikan islam dalam perspektif Al Quran dapat diperoleh dari pengkajian terhadap QS. Al Alaq ayat 1, yakni melalui pendidikan, manusia diharapkan dapat membaca realitas kehidupan, membaca fenomena alam dan memahami kejadian manusia di samping dapat membaca tulisan. Di dalam ayat lain, Q.S al Baqarah ayat 151, juga dijelaskan fungsi tugas kerasulan nabi Muhammad SAW yang secara tidak langsung hal itu menunjukkan apa saja fungsi pendidikan Islam. tugas kerasulan dan fungsi pendidikan islam ini memiliki keterkaitan yang erat karena Nabi Muhammad SAW di sisi sebagai seorang Rasul yang diwajibkan untuk menyempaikan risalah, beliau juga merupakan tokoh utama dalam Pendidikan Islam, beliau saw menghabiskan seumur hidupnya untuk mengabdi kepada Allah SWT dengan cara mengajar umatnya dan juga makhluk yang lain, mengingat beliau saw juga diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.
Disebutkan dalam QS. Al Baqoroh ayat 151 sebagai berikut :
كَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِيكُمۡ رَسُولٗا مِّنكُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمۡ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ ١٥١
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
Dari ayat ini dap dipetik 5 tugas kerasulan yang diemban oleh Rasululah saw sebagai seorang pendidik, yakni :menyucika diri, mengajarkan kitab, mengajarkan hikmah dan mengajarkan ilmu pengetahuan. Muhamamd Abduh di dalam tafsir al Manna menjelaskan ayat ini sebagai berikut :
Pertama, membaca ayat-ayat Allah. yang dimaksud kan oleh Muhammad Abduh di dalamkalimat ini yakni pemahaman terhadap aya-ayat kauniyah atau yang tidak tertulis di dalam Quran, seperti alam semesta dan manusia itu sendiri. Dari sini manusia diharapkan mampu memperluas wawasannya melalui kemampuan membaca ayat-ayat Allah, sehingga kemudian manusia itu dapat sampai pada kesadaran akan wujudnya Allah(memahami bahwa Allah SWT itu ada)
Kedua, ia memanai menyucikan diri sebagai implementasi dari pemahaman akan ayat-ayat Allah sebagaimana yang telah dijelaskan. Ia dapat memahami hukum-hukum Allah yang ada di Quran atau ayat-ayat kauniyahNya, sehingga ia dapat menjaga fitrah kemanusiaan dengan menjauhkan diri dari menyekutukan Allah berperilaku dengan akhlak madzmumah.
Ketiga, Mengajarkan kitab dan hikmah. Muhammad abduh memaknai hal ini dengan menjelaskan bahwa Quran sebenarnya merupakan pedoman hidup yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, Alam maupun manusia itu sendiri. Ia berpendapat bahwa Quran masih bersifat mujmal(garis besar) sehingga memerlukan hikmah- hikmah untuk memperjelas maksud dari ayat-ayat Quran. Hikmah yang dimaksud tersebut adalah hadis-hadis.namun menurut Achmadi, bila mana yang dimaksud dari hikmah tersebut diartikan lebih luas, maka dapat dipahami sebagai kebijaksanaan hidup yang berlandaskan nilai-nilai yang berasal dari Allah dan Rasulullah SAW.
Kemudian dalam memkanai potongan ayat terakhir, Achmadi seakan memberikan pemahaman bahwa ada ilmu-ilmu yang belum diajarkan kepada manusia, terutama sebelum nabi Muhammad SAW, yakni ilmu tentang adab-adab, ia kemudian mengaitkan alasannya dengan menggunakan hadis bahwa tugas utama misi diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah dengan menyempurnakan akhlak menjadi lebih baik, sehingga manusia nantinya akan mengambil ilmu-ilmu dan nilai-nilai moral Nabi Muhammad SAW.
Achmadi juga seakan menegaskan bahwa Rasulullah SAW memberikan antisipasi kepada umatnya dengan mengaitkan hadis “carilah ilmu walaupun sampai ke negeri china”, hadis ini ia pahami sebagai cara nabi memotivasi manusia untuk mencari wawasan ilmu keduniaan kepada siapapun dan di manapun. Maka dari sini, pendidikan dapat dimaknai sebagai daya dobrak untuk memperdalam dan menguasai keilmuan-keilmuan yang belum terjamah atau belum dikembangkan oleh manusia.
penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa antara tugas dan fungsi pendidikan Islam, keduanya saling berkaitan. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsi pendidikan Islam itu sendiri. Jika pendidikan Islam dapat melaksanakan tugasnya dengan berdasarkan nilai-nilai dan norma ajaran Islam maka pendidikan Islam akan mampu mewujudkan tercapainya kehidupan yang harmonis, seimbang antara duniawiyah dan ukhrowiyah. Dengan demikian jelaslah bahwa manusia dalam hidup dan kehidupannya membutuhkan adanya pendidikan
Tujuan Pendidikan Islam
Kalau melihat tujuan pendidikan islam adalah menanamkan takwa dan kahlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut islam.
Seperti apa yang dikatakan muhammad fadhil al-jamali, tujuan pendidikan islam ada empat macam:
Mengenalkan manusia akan perannya di antara makhluk dan tanggung jawab dalam hidup ini.
Mengenal manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat.
Mengenal manusia akan alam dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptakannya serta memberi kemungkinan kepada mereka untuk mengembil manfaat darinya
Mengenalkan manusia akan pencipta alam dan menyuruh beribadah kepada-nya.
Sedangkan tujuan pendidikan islam melihat dari perspektif al-quran oleh muhammad fadil al-jamali ada beberapa poin:
Mengenal manusia akan perannya di antara makhluk dan tanggung jawab pribadi dalam hidup ini.
Mengenal manusia dan hubungannya dengan lingkungan sosialnya dan tanggung jawabnya dalam atta hidup bermasyrakat.
Mengenalkan manusia dengan alam ini dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptanya serta memberikan kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaatnya.
Mengenalkan manusia dengan pencipta alam (Allah) dan memerintahkan beribadah kepada-Nya.
Jika kita simpulkan, mengambil dari kutipan, tujuan pendidikan muslim adalah untuk menciptakan manusia yang baik dan benar. Pendidikan islam merupakan solusi atau syarat kepada umat islam seluruh dunia. Untuk itu, pendidikan memnag pintu untuk menjadi lebihj baik lagi.
BAB III
Kesimpulan
Dasar Pemikiran Pendidikan Islam
Berasal dari sumber yang sama yaitu al Quran dan hadits. Kemudian dasar tadi dikembangkan dalam pemahaman para ulama dalam bentuk qiyas Syari, ijma yang diakui, ijtihad
Hakikat Pendidikan
Kami selaku penulis menyimpulkan dari karya Arifin dalam buku Ilmu Pendidikan Islam dan dari karya Tadjab dalam buku Dasar Dasar Kependidikan Islam bahwa Hakikat Pendidikan Islam adalah usaha yang dilakukan oleh muslim dewsa dan bertaqwa untuk membimbing anak didiknya dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak didiknya dari kemampuan dasar yang ia miliki sampai ke arah titik yang maksimal agar manusia itu mampu hidup dan berkehidupan serta melaksanakam tugas sebagai hamba Alloh dan kholifah Allah di muka bumi.
Tugas Pendidikan Islam
Tugas pendidikan adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan anak didik dari satu tahap ke tahap yang lain sampai meraih titik kemampuan yang optimal. Bimbingan dan pengarahan tersebut menyangkut potensi kemampuan dasar serta bakat manusia yang mengandung kemungkinan-kemungkinan berkembang ke arah kematangan yang optimal.
Fungsi Pendidikan Islam
Menurut M. Arifin adalah untuk menyediakan fasilitas yang memadai untuk mendukung kelancaran tugas pendidikan.
Fungsi Pendidikan Islam yang digagas oleh Achmadi, ialah bahwa pendidikan Islam berfungsi sebagai pemelihara dan pengembang fitrah dan sumber daya manusia menuju terbantuknya manusia seutuhnya (insan kamil) yakni manusia yang berkualitas sesuai dengan pandangan islam.
Tujuan Pendidikan Islam
Jika kita simpulkan, mengambil dari kutipan fadil al-jamali tujuan pendidikan muslim adalah untuk menciptakan manusia yang baik dan benar
Saran
Sebagai generasi penerus masa depan, maka seyogyanyalah kita terus berusaha untuk memajukan perdaban Islam melalui pendidikan, dan alangkah lebih baik pendidikan dipadukan pendidkan yang sesuai dengan syariat Islam guna untuk terus menjaga dan menjalankan amanah yang Allah berikan
Daftar Pustaka
Abuddin Nata. 2016. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Prenadamedia Group.
Achmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Al Syaibani, umar Muhammad al toumy. 1996. al usus al nafsiyyat wa al tarbiyaty li ri’ayat .
Mesir : khairat, dar al ma’rif.
Asy’arie , Musa. 1999. Filsafat Islam Tentang Kebudayaan. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat
Islam
Daradjat , Zakiyah. 1996. Ilmu Pendidikan Islam . Jakarta: Bumi Aksara
Jalaluddin. 1994. Filsafat pendidikan Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Jalaluddin. 2016. Ilmu Pendidikan Islam. jakarta: PT Rajagrafindop persada
Muhaimin dan Abdul Muji. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis Dan Kerangka
Operasionalisasinya Bandung. Trigenda Karya
Salik, Mohammad. 2014. Ilmu Pendidikan Islam. Surabaya: Uin Sunan Ampel Press.
Zuhairini. 1995. . Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara,
Comments
Post a Comment