Sosiologi pend. Islam "Dasar ilmu sosial pendidikan islam" kelompok 1 (semester 6)
Dasar Ilmu Sosiologi Pendidikan Islam
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah sosiologi pendidikan islamm
Dosen pengampu
Dra. Hj. Fa’uti Subhan, M. Pd. I
Oleh :
Abu Aman (D01216001)
Haqqul Balqis Sudarjo (D01216013)
Mahsus (D01216017)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pendidikan islam mempunyai peran aktif dalam menciptakan generasi yang mampu berinteraksi sosial dengan baik, sebaliknya sosiologi memberikan informasi ke dalam dunia pendidikan tentang nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Pendidikan Agama Islam mengenalkan kepada peserta didik tentang nilai-nilai yang terdapat dalam Agama Islam agar kelak ilmu yang dimiliki dan kemudian diamalkan sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran keagamaan meskipun tidak secara mayoritasmasyarakat Indonesia adalah islam akan terapi sebuah nilai.
Pendidikan islam bisa dianggap berhasil ketika peserta didik mempunyai kemampuan dan potensi untuk dimanfaatkan oleh dirinya, masyarakat, agama, bangsa, dan negara. Di sinilah letak hubungan fungsionalitas dan korelasi antar pendidikan islam dengan sosiologi, karena sosiologi membahas tentang interaksi sosial di masyarakat. Keberhasilan dalam pendidikan agama Islam tidak hanya bisa ditentukan dengan struktur nilai yang disimbolkan dengan angaka, melainkan lebih ditentukan oleh kehidupan interaksi social sehari-hari yang terjadi di sekolah, baik antar masyarakat, sekolah maupun antara sekolah dengan masyarakat sekitar dengan nilai-nilai keislaman.
Oleh karena itu sosiologi mempunyai kontribusi penting bagi pendidikan Agama Islam dalam kaitannya dengan penerapan agama dalam kehidupan bermasyarakat. Sesungguhnya studi sosiologi sangat penting untuk kita sebagai makhluk sosial. Diri kita sendirilah yang menjadi objek kajian sosiologi karena kita selalu berinteraksi dengan orang lain. Kita juga sebagai manusia yang berbudaya yang memiliki norma, nilai dan tradisi.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Sosiologi Pend. Islam?
2. Apa sebab munculnya Sosiologi Pend. islam?
3. Apa tujuan Sosiologi Pend. Islam?
4. Apa saja bidang kajian Sosiologi Pend. Islam?
5. Seperti apa contoh kajian Sosiologi Pend. Islam?
6. Apa saja pendekatan dalam kajian Sosiologi Pend. Islam?
Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Sosiologi Pend. Islam
2. Untuk mengetahui sebab munculnya Sosiologi Pend. Islam
3. Untuk mengetahui tujuan Sosiologi Pend. Islam
4. Untuk mengetahui bidang kajian Sosiologi Pend. Islam
5. Untuk mengetahui contoh kajian Sosiologi Pend. Islam
6. Untuk mengetahui pendekatan dalam kajian Sosiologi Pend. Islam
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Sosiologi Pendidikan Islam
Sosiologi Pendidikan Islam terdiri dari tiga kata, yaitu Sosiologi yang diartikan sebagai “Ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, terutama di dalamnya perubahan-perubahan sosial” , Secara etimologi (asal-usul kata), sosiologi pendidikan berasal dari kata sosiologi dan pendidikan. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya. Jadi sosiologi dapat ditafsirkan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial disuatu wilayah serta kaitannya satu dengan yang lain. Sosiologi pendidikan didefinisan sebagai suatu kajian yang mempelajari hubungan antara masyarakat, yang didalamnya terjadi interaksi sosial, dengan pendidikan. Dalam hubungan ini, dapat dilihat bagaimana masyarakat memngaruhi pendidikan, juga sebaliknya, bagaimana pendidikan mempengaruhi masyarakat.
Dengan konsep masyarakat seperti diatas, maka sosiologi pendidikan mengkaji masyarakat, yang didalamnya terdapat proses dan pola interaksi sosial, dalam hubungannya dengan pendidikan. Hubungan dalam sisi saling mempengaruhi. Pada awalnya Sosiologi dan Ilmu Pendidikan memiliki wilayah kajian berbeda. Namun karena peerkembangan sosial berlangsung menyebabkan keduanya pendsiplin ilmu ini bersinergi, dengan kata lain, sosiologi pendidikan merupakan subdisiplin yang menepati wilayah kajian yang menjembatani disiplin sosiologi dengan ilmu pendidikan.
Secara historis, sosiologi dan pendidikan dianggap sebagai pengetahuan kuno, yang keberadaannya berbarengan dengan awal mula adanya manusia. Apabila sosiologi dipahami dalam arti luas, yakni sebagai socia linterraction (interaksi sosial) atau human relationship (hubungan antar manusia), maka sosiologi telah ada sejak zaman Nabi Adam. Namun sosiologi dalam pengertian saintific (ilmu pengetahuan).
Demikian juga dengan pendidikan, kalau pendidikan dipahami dalam arti luas, yakni sebagai proses belajar, mengenal, dan mengetahui, maka pendidikan telah ada sejak Nabi Adam juga. Ketika Allah swt mengajari Adam untuk mengenal nama-nama seluruh benda yang ada disekitarnya, dapat dikatakan bahwa peristiwa tersebut sebagai aktivitas pendidikan (QS. Al-Baqarah: 31).
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Terjemah Arti: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
Tetapi sebagai disiplin ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, ilmu pendidikan baru diakui pada abad ’19, ketika para ahli berhasil merumuskan obyek, metode dan sistemnya.
Sedangkan menurut George Payne merupakan salah satu tokoh dalam kajian sosiologi Pendidikan memberikan konsepsi bahwa:
“By educational sociology we mean the science which describes and explains the institutions, social groups, and social processes, that is social reletionship in which or through which the individual gains and organizes experiences”.
Disisni Payne menekankan bahwa dalam lembaga-lembaga (termasuk sekolah) kelompok sosial, proses sosial terdapatlah apa yang hubungan-hubungan sosial (social relationship) atau secara tehnis disebut interaksi sosial, dimana didalam dan dengan interaksi social itu individu memperoleh dan mengorganisir pengalaman-pengalamannya.
Sosiologi Pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang interaksi diantara individu-individu dan kelompok, kelompok dengan kelompok, atau dengan perkataan lain dengan secara khusus Sosiaologi Pendidikan itu membicarakan, melukiskan, dan menerangkan institusi-institusi, kelompok-kelompok sosial, dan proses sosial, hubungan atau relasi sosial dimana didalamnya manusia memperoleh dan mengorganisir pengalaman-pengalamannya. Jadi Sosiologi Pendidikan tidak hanya terbatas pada studi sekolah saja, tetapi lebih luas lagi ialah mencakup institusi-institusi sosial dengan batasan sepanjang pengaruh dari pada totalitas miliukultural terhadap perkembangan kepribadian anak.
Dari pengertian-pengertian di atas, dapat kita simpulkan bahwa Sosiologi Pendidikan Islamadalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik sesuai dengan ajaran agama Islam, mengatur bagaimana seorang individu berhubungan dengan individu yang lain sesuai dengan kaidah-kaidah Islam yang akan mempengaruhi individu tersebut dalam mendapatkan serta mengorganisasikan pengalamannya.
2. Sebab munculnya Sosiologi Pendidikan Islam
Sosiologi Pendidikan berawal dari ilmu sosiologi umum atau Sosiologi micro (micro sociology) yang muncul pada abad ke-18. Ilmu Sosiologi mulai melepaskan diri dari ilmu filsafat dan berdiri sendiri sejak abad ke-19. Istilah sosiologi pertama kali digunakan oleh August Comte (1798-1857) dalam bukunya cour de phillosophie positive.
Pada awalnya sosiologi berada dalam ilmu filsafat yang dipandang sebagai satu-satunya ilmu untuk pengetahuan umum. Namun, ketika ada masalah yang terdapat dalam masyarakat yang ternyata tidak bisa dipecahkan dalam ilmu filsafat maupun ilmu-ilmu lainnya, maka kebiasaan untuk memisahkan sosiologi dari ilmu lainnya tampak dan terasa pada masa Revolusi di Eropa yang mengganas dalam Revolusi Prancis (1789-1799). Pada abad ke-19 ahli-ahli sosiologi menyumbangkan pe mikiran-pemikirannya untuk mempermudah pendidikan, maka lahirlah disiplin ilmu baru yang disebut Sosiologi Pendidikan.
Ditinjau dari perspektif sebab lahirnya Sosiologi Pendidikan adalah dikarenakan adanya perkembangan masyarakat yang cepat dan berakibat pada merosotnya peran pendidik, dan perubahan interaksi antarmanusia. Dikarenakan manusia tumbuh dan berkembang bukan disekolah melainkan di masyarakat.
Selanjutnya, yang melatar belakangi lahirnya sosiologi pendidikan lagi adalah munculnya pandangan tentang pendidikan sebagai ikhtiar sosial (osial thing) dan pendapat bahwa, pendidikan itu bukanlah hanya satu bentuk, baik dalam artian ideal maupun aktualnya, tetapi bermacam-macam. Seberapa banyaknya bentuk dimaksud sebenarnya mengikuti banyaknya perbedaan lingkungan di masyarakat itu sendiri. Sehingga masyarakat secara keseluruhan beserta masing-masing lingkungan khususnya, akan menentukan tipe-tipe pendidikan yang diselenggarakan.
Saat ini fakta menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat, progresif, dan sering menunjukkan gejala desintegratif (berkurangnya kesetiaan terhadap nilai-nilai umum), jika nilai-nilai umum saja sudah tidak diperhatikan lagi, apalagi dengan nilai-nilai agama. Perubahan sosial yang cepat juga menimbulkan cultural lag (ketinggalan kebudayaan akibat adanya hambatan-hambatan), yang menjadi sumber masalah-masalah dalam sosial masyarakat. Masalah-masalah sosial juga dialami dunia pendidikan. Oleh karena itu, para ahli sosiologi diharapkan mampu menyumbangkan pemikirannya untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.
Pendidikan formal di sekolah tidak akan pernah lepas dari campur tangan guru. Guru merupakan seorang administrator, informator, konduktor, dan sebagainya, yang diharuskan memiliki kelakuan dan tabiat yang sesuai dengan harapan masyarakat. Sebagai pendidik dan pembangun generasi, seorang guru diharapkan memiliki tingkah laku yang bermoral tinggi yang dapat ditiru dan dijadikan tauladan bagi para siswa demi masa depan bangsa dan Negara.
Kepribadian guru dapat mempengaruhi suasana kelas maupun sekolah, yang akibatnya siswa dapat bebas dalam mengeluarkan pendapat dan mengembangkan kreatifitasnya, atau bahkan sebaliknya, terkekang dan selalu menuruti kemauan guru tanpa bisa berkembang.
Anak dalam perkembangannya dipengaruhi oleh orang tua (pendidikan informal), guru-guru/sekolah (pendidikan formal), dan masyarakat (pendidikan non formal). Dari ketiga aspek tersebut, pengaruh lingkunganlah yang paling menentukan. Pendidikan sendiri dapat dipandang sebagai sosialisasi yang terjadi dalam interaksi sosial. Maka sudah sewajarnya bila seorang guru/pendidik harus berusaha menganalisis pendidikan dari segi sosiologi, mengenai hubungan antar manusia baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat (dengan sistem sosialnya).
3. Tujuan Sosiologi Pendidikan Islam
Adapun beberapa konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan islam diantaranya:
Menurut Zainuddin Maliki, tujuan Sosiologi Pendidikan adalah untuk:
a. Menganalisis proses sosialisasi
b. Menganalisis kedudukan pendidikan dalam masyarakat
c. Menganalisis interaksi sosial disekolah dan antara sekolah dealam masyarakat
d. Membantu memecahkan masalah-masalah sosial pendidikan
e. Menganalisis tujuan pendidikan secara obyektif
f. Mempelajari kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrol
Sedangkan menurut Nasution ada beberapa konsep tentang tujuan Sosiologi Pendidikan Islam, antara lain sebagai berikut:
1. Analisis proses Sosiologi
2. Aanalisis kedudukan pendidikan dalam masyarakat
3. Analisis interaksi social disekolah dan antara sekolah dengan masyarakat
4. Alat kemajuan dan perkembangan Social
5. Dasar untuk menentukan tujuan pendidikan
6. Sosiologi terapan, dan
7. Latihan bagi petugas pendidikan
Sedangakan menuriut Ary H. Gunawan menyebutkan bahwa tujuan sosiologi pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis proses sosiologi anak, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pengaruh lingkungan dan kebudayaan masyarakat terhadap perkembangan pribadi anak perlu diperhatikan
2. Menganalisis perkembangan dan kemajuan sosial. Banyak pakar atau orang yang beranggapan bahwa pendidikan memberikan peran yang sangat besar bagi kemajuan masyarakat. Sebab, dengan memiliki ijazah yang tinggi, seseorang akan lebih mampu menduduki jabatan yang lebih tinggi serta penghasilan yang lebih banyak
3. Menganalisis status pendidikan didalam masyarakat. Berdirinya suatu lembaga pendidikan dalam masyarakat sering disesuaikan dengan tingkatan daerah tempat lembaga pendidikan berada. Misalnya, perguruan tinggi bisa didirikan di tingkat provinsi atau minimal kabupaten yang cukup baik animo mahasiswanya
4. Menganalisis partisipasi orang-orang terdidik dalam kegiatan sosial. Peran atau aktivitas warga yang berpendidikan sering menjadi ukuran tingkat kemajuan suatu masyarakat. Orang-orang berpendidikan mudah untuk berperan dalam masyarakat
5. Menentukan tujuan pendidikan. Sejumlah pakar berpendapat bahwa tujuan berpendidikan harus bertolak dan dipulangkan pada filsafat hidup bangsa tersebut
6. Memnberikan latihan-latihan yang efektif dalam bidang sosiologi kepada guru atau orang yang terlibat dalam pendidikan sehingga memberikan kontribusi yang tepat terhadap proses pendidikan.
Sosiologi pendidikan Islam sebagai sosiologi terapan. Sosiologi pendidikan dianggap bukan ilmu yang murni akan tetapisebuah ilmu yang diterapakan untuk mengendalikan pendidikan antarasosiologi dengan pendidikan Islam dipadukan dengan menerapkan prinsip-prinsip sosiologi pada seluruh pendidikan.
4. Kajian Sosiologi Pendidikan Islam
Menurut S. Nasution masalah-masalah yang diselidiki dalam sosiologi pendidikan meliputi pokok-pokok masalah sebagai berikut :
1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat.
Dalam kategori ini terdapat antara lain masalah-masalah sebagai berikut:
a. Fungsi pendidikan dalam kebudayaan.
b. Hubungan dengan system pendidikan dengan proses control social dan system kekuasaan.
c. Fungsi system pendidikan dalam proses perubahan social dan cultural atau usaha mempertahankan status quo.
d. Hubungan pendidikan dengan system tingkat/status social.
e. Fungsi system pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, cultural dan sebagainya.
2. Hubungan antar manusia dalam sekolah.
Lapangan kedua ini menganalisis struktur sosial di dalam sekolah, pola kebudayaan di dalam sistem sekolah menunjukkan perbedaan dengan apa yang terdapat di dalam masyarakat di luar sekolah. Di dalam bidang ini dapat dipelajari:
a. Hakikat kebudayaan sekolah, sejauh mana ada perbedaan dengan kebudayaan di luar sekolah.
b. Pola interaksi social atau struktur masyarakat sekolah. Yang antara lain meliputi berbagai hubungan antara berbagai unsur di sekolah, kepemimpinan dan hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dan pola interaksi informal sebagai terdapat dalam clique serta kelompok-kelompok murid lainnya.
3. Pengaruh sekolah terhadap kelakuan dan kepribadian semua pihak di sekolah meliputi :
a. Peranan social guru.
b. Hakikat kepribadian guru.
c. Pengaruh kepribadian guru terhadap kelakuan anak.
d. Fungsi sekolah terhadap sosialisai murid.
4. Sekolah dalam masyarakat meliputi :
a. Pengaruh masyarakat atas organisasi sekolah.
b. Analisis proses pendidikan yang terdapat dalam system-sistem social dalam masyarakat luar sekolah.
c. Hubungan antara sekolah dan masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan.
d. Factor-faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat yang bertalian dengan organisasi sekolah.
Oleh karena itu, tujuan sosiologi pendidikan adalah agar mahasiswa mengerti, memahami, dan mengaplikasikan seluruh konsep, teori, dan aplikasi sosiologi pendidikan untuk dapat mengembangkan pendidikan agama islam dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan,
Sedangkan menurut Ary H. Gunawan mengatakan kajian Sosiologi adalah sebagai berikut:
1. Struktur Sosial adalah jalinan dari seluruh unsur-unsur sosial
2. Unsur-unsur sosial, yang pokok adalah norma/ kaidah sosial, lembaga sosial, kelompok sosial, dan lapisan sosial
3. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama
4. Perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial, seperti nilai, sikap, dan sebagainya
5. Contoh kajian Sosiologi Pendidikan Islam
Putus sekolah merupakan predikat yang diberikan kepada peserta didik yang tidak mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan, sehingga tidak dapat melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan berikutnya. Masalah putus sekolah khususnya pada jenjang pendidikan rendah, kemudian tidak bekerja atau berpenghasilan tetap, merupakan beban masyarakat bahkan sering menjadi pengganggu ketentraman masyarakat. Hal ini diakibatkan kurangnya pendidikan atau pengalaman intelektual, serta tidak memiliki ketrampilan yang dapat menopang kehidupannya sehari-hari. Lebih-lebih bila mengalami frustasi dan merasa rendah diri tetapi bersikap overkompensasi, bisa menimbulkan gangguan-gangguan dalam masyarakat berupa perbuatan kenakalan yang bertentangan dengan norma-norma sosial yang positif.
Masalah putus sekolah bisa menimbulkan ekses dalam masyarakat, karena itu penanganannya menjadi tugas kita semua. Khususnya melalui strategi dan pemikiran-pemikiran sosiologi pendidikan, sehingga para putus sekolah tidak mengganggu kesejahteraan sosial. Sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) langkah yang dapat dilakukan, yaitu:
a) Langkah preventif: membekali para peserta didik dengan ketrampilan-ketrampilan praktis dan bermanfaat sejak dini, agar kelak bila diperlukan dapat merespons tantangan-tantangan hidup dalam masyarakat secara positif, sehingga dapat mandiri dan tidak menjadi beban masyarakat, atau menjadi parasit dalam masyarakat. Misalnya ketrampilan-ketrampilan kerajinan, jasa, perbengkelan, elektronika, PKK, fotografi, batik, dan lain sebagainya.
b) Langkah pembinaan: memnerikan pengetahuan-pengetahuan praktis yang mengikuti perkembangan/perbaruan zaman melaui bimbingan dan latihan-latihan dalam lembaga-lembaga sosial/pendidikan luar sekolah seperti LKMD, PKK, klompencapir, karang taruna, dan lain sebagainya.
c) Langakah tindak lanjut: memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada mereka untuk terus melangkah maju melaui penyediaan fasilitas-fasilitas penunjang sesuai kemampuan masyarakat tanpa mengada-ada, termasuk membina hasrat pribadi untuk berkehidupan yang lebih baik dalam masyarakat. Misalnya memberikan penghargaan, bonus, keteladanan, kepahlawanan, dan sebagainya, sampai berbagai kemudahan untuk melanjutkan studi dengan program Belajar Jarak Jauh (BJJ), seperti unoversitas terbuka, sekolah terbuka, dan sebagainya.
6. Pendekatan Sosiologi Pendidikan Islam
Sosiologi pendidikan sebagai disiplin ilmu pengetahuan yang mempelajari secara khusus tentang interaksi diantara individu – individu, antar kelompok, institusi – institusi sosial, proses sosial, relasi sosial dimana di dalam dan denganya manusia memperoleh dan mengorganisir pengalaman. Menurut Abu Ahmadi, sosiologi pendidikan memiliki pendekatan psiko-pedagogis. Pendekatan sosiologi sebagai pendekatan sosiologi pendidikan terdiri dari :
a. Pendekatan Individual (The Individual Approach)
Dalam sosiologi, individu digunakan untuk menunjuk orang – orang atau manusia perorangan, yang berarti satu manusia bukan kelompok manusia. Individu dibatasi oleh diri sendiri dan tidak terbagi, ibaratnya individu sebagai atom masyarakat, atom sosial. Apabila kita dapat memahami tingka laku individu satu persatu, seperti cara berfikir, perasaan, kemauan, perbuatan, sikap dan ucapannya maka akan dapat dimengerti keberadaan suatu masyarakat.
Pada intinya, individu adalah manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas dan lingkungan sosialnya, maliankan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya, karena dalam diri individu manusia mempunyai tiga aspek, yaitu apek organik jasmani, aspek psikis rohaniah dan aspek sosial kebersamaan. Ketiga aspek tersebut saling mempengaruhi dan keguncangan pada satu aspek akan membawa akibat pada aspek yang lain.
b. Pendekatan Sosial (The Social Approach)
Secara pribadi manusia merupakan makhluk individu, tetapi dalam kenyataannya sejak lahir manusia sendiri sebenarnya menunjukkan makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Secara ekstrim, manusia tidak dapat dipisahkan dengan keluarganya, teman, kelompok dan masyarakatnya. Menurut CA. Elwood dalam bukunya The Psycology of Human Society menyatakn bahwa ada 3 unsur biologis yang menyebabkan manusia hidup bermasyarakat dan saling ketergantuungan, yaitu dorongan untuk makan, dorongan untuk mempertahankan diri dan dorongan untuk melangsungkan jenisnya.
Pendekataan sosial beranggapan bahwa tingkah laku individu secara mutlak ditentukan oleh masyarakat dan budaya, dimana iindividualitas tenggelam dalam sosialitas manusia.
c. Pendekatan Interakksi (The Interaction Approach)
Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih, individu manusia dimana kalakuan individu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu lainnya atau sebaliknya. Definidi ini menekankan pada hubunagn timbak balik interaksi sosial antara dua atau lebih manusia. Interaksi sosial dilakukan dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan afeksi atau cinta kasih, kkebutuhan inklusi atau mendapatkan kepuasan dan mempertahankan serta memenuhi kebutuhan kontrol. Beberapa faktor yang melatarbelakangi tejadinya interaksi adalah adanya imitasi, sugesti, identifikasi, simpati dan motivasi.
1. Warisan Kebudayaan (Culture Heritage)
Ada beberapa ahli yang mempunyai perhatian besar dan telah merumuskan definisi
kebudayaan :
a. EB. Taylor merumuskan bahwa kebudayaan adalah mempunyai sifat kompleks, didalamnya berisi tentang pengetahuan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain sebagainya termasuk kebijaksanaan yang diiperolah manusia dari masyarakat.
b. Hasan Shadily merumuskan bahwa kebudayaan berarti keseluruhan dari hasil manusia hidup bermasyarakat, berisi aksi – aksi terhadap dan oleh sesaman manusia sebagai anggota masyarakatyang merupakan kepandaian, kepercayaan, moral, hukum, adat istiadat dan lain sebagainya.
c. Koentjoroningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Secara umum, Linton mengelompokkan komponen – komponen kebudayaan, antar lain:
1. Alam fikiran ideologis dan religius
2. Bahasa
3. Hubungan Sosial
4. Hidup berekonomi
5. Ilmu pengetahuan dan teknologi
6. Kesenian
7. Politik dan Pemerintah
8. Pewarisan kebudayaan
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sosiologi Pendidikan adalah ilmu yang mengkaji tentang aktivitas Pendidikan yang meliputi proses, prosedur, dan hasil dari sudut pandang ilmu sosial, begitu juga sebaliknya perubahan sosial yang tengah berlangsung di masyarakat dilihat dari perspektif ilmu pendidikan.
Secara etimologi (asal-usul kata), sosiologi pendidikan berasal dari kata sosiologi dan pendidikan. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya. Jadi sosiologi dapat ditafsirkan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial disuatu wilayah serta kaitannya satu dengan yang lain.
Pendekatan sosiologi sebagai pendekatan sosiologi pendidikan terdiri dari :
1. Pendekatan Individual (The Individual Approach) Dalam sosiologi, individu digunakan untuk menunjuk orang – orang atau manusia perorangan, yang berarti satu manusia bukan kelompok manusia. Individu dibatasi oleh diri sendiri dan tidak terbagi, ibaratnya individu sebagai atom masyarakat, atom sosial. Apabila kita dapat memahami tingka laku individu satu persatu, seperti cara berfikir, perasaan, kemauan, perbuatan, sikap dan ucapannya maka akan dapat dimengerti keberadaan suatu masyarakat. Pada intinya, individu adalah manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas dan lingkungan sosialnya, maliankan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya, karena dalam diri individu manusia mempunyai tiga aspek, yaitu apek organik jasmani, aspek psikis rohaniah dan aspek sosial kebersamaan. Ketiga aspek tersebut saling mempengaruhi dan keguncangan pada satu aspek akan membawa akibat pada aspek yang lain.
2. Pendekatan Sosial (The Social Approach) Secara pribadi manusia merupakan makhluk individu, tetapi dalam kenyataannya sejak lahir manusia sendiri sebenarnya menunjukkan makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Secara ekstrim, manusia tidak dapat dipisahkan dengan keluarganya, teman, kelompok dan masyarakatnya. Menurut CA. Elwood dalam bukunya The Psycology of Human Society menyatakn bahwa ada 3 unsur biologis yang menyebabkan manusia hidup bermasyarakat dan saling ketergantuungan, yaitu dorongan untuk makan, dorongan untuk mempertahankan diri dan dorongan untuk melangsungkan jenisnya. Pendekataan sosial beranggapan bahwa tingkah laku individu secara mutlak ditentukan oleh masyarakat dan budaya, dimana iindividualitas tenggelam dalam sosialitas manusia.
3. Pendekatan Interakksi (The Interaction Approach) adalah suatu hubungan antara dua atau lebih, individu manusia dimana kalakuan individu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu lainnya atau sebaliknya. Definidi ini menekankan pada hubunagn timbak balik interaksi sosial antara dua atau lebih manusia. Interaksi sosial dilakukan dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan afeksi atau cinta kasih, kkebutuhan inklusi atau mendapatkan kepuasan dan mempertahankan serta memenuhi kebutuhan kontrol. Beberapa faktor yang melatarbelakangi tejadinya interaksi adalah adanya imitasi, sugesti, identifikasi, simpati dan motivasi.
DAFTAR PUSTAKA
Partono, A Pius, dkk. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola, 2000
Pidarto, Made. Landasan Kepribadian. Jakarta: Rineka Cipta, 2000
Maksum, Ali. Sosiologi pendidikan. Surabaya: UIN SA Press, 2014
Damsar, Pengantar Pendidikan. Jakarta: Kencana, 2014
E. George Payne, Principles of Education Sociology, New York: University Book Store, 1997
Ahmadi, Abu. Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2007
Rohman, Abid. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2000
http://yuliantihome.wordpress.com/2012/09/19/sosiologi-pendidikan-islam, diakses 2 November 2012
Comments
Post a Comment